Dari Sutil Rusak Belajar Komunikasi Pasutri

Lagi anteng masak-masak, pas ngaduk tumisan, eh sutilnya malah patah. Padahal pengaduk yang digunakan untuk memudahkan saat memasak itu sangat nyaman saya pakai. Kok bisa patah sih? Mana waktunya lagi repot menyajikan makanan jelang berbuka puasa lagi.

Ternyata spatula kaleng yang saya beli sekitar tiga tahun lalu itu yang rusak hanya batangnya saja karena sering kena panas dari kompor, membuat batangnya yang terbuat dari kayu itu hangus. Ketika saya tekan agak kuat, gagangnya itu patah jadi dua. Pas dekat pangkalnya.

Kayunya memang sudah rapuh juga. Karena memang dibuat dari kayu biasa, dengan tujuan ringan saat digunakan. Jadi saat gosong kena asap dan panas dari api kompor kerapuhan nya itu makin dalam.

Sutil yang biasa enakeun dipakai yang ada di dapur hanya dua dan semuanya sudah dipakai. Ada spatula lain tapi itu khusus untuk wajah anti lengket, mau saya pakai malah takut rusak atau tidak nyaman karena bukan peruntukannya. Sementara mengaduk masakan ini dan itu butuh Sutil yang berbeda biar masakan tidak bercampur dan tidak menyebabkan basi sebelum waktunya.

Melihat jam masih ada sekitar satu jam lagi ke waktu berbuka, akhirnya saya kepikiran untuk mengganti gagang sutil itu saat itu juga.

Segera mematikan kompor, menutup wajah dengan penutup panci dan langsung mencari golok dekat tangga.

Suami sontak bertanya mau kemana dan ngapain? Saya jawab mau cari ranting daun jambu.

“Emang masak apa pakai jambu?”

Saya malah balik merasa jengkel. “Bukan masak pakai jambu, tapi mau cari ranting jambu, buat ganti pegangan sutil yang patah ini.” Jelas saya.

“Oh, gitu. Sini biar ayah bantu. Ngomong dong kan biar paham. Memotong dahan sebaiknya pakai gergaji. Simpan aja dulu itu goloknya.” Kata suami sambil segera mengambil gergaji dari tempat perkakas di dekat tangga. Tempat yang sama saat saya ambil golok tadi.

Benar juga, kenapa saya gak kasih tahu dan minta tolong saja sama suami ya? Jadi kan tidak harus mematikan kompor dan meninggalkan pekerjaan lain. Apakah karena saya merasa mampu melakukannya lalu gak harus minta tolong pada orang lain, meskipun suami sendiri?

Kadang saya punya pikiran tidak ingin merepotkan orang lain. Selagi saya mampu, saya bisa mengerjakan sendiri, ya saya lakukan. Mengganti gas, mengganti galon air, semua sudah biasa saya kerjakan. Bahkan naik atap betulin genting saja saya bisa dan mampu, kok!

Saya terbiasa mengerjakan semua itu semenjak bapak tiada. Ya sebagai anak pertama mau tidak mau saya ambil alih tugas bapak sebagai penggantinya. Gak mungkin juga nyuruh adik saya yang masih kecil meski ia anak lelaki. Sejak itu saya merasa kalau saya bisa kenapa harus minta tolong?

Tapi sepertinya pikiran itu harus saya ubah setelah saya memiliki suami. Bagaimanapun peran suami ingin diakui keberadaanya. Hal itu saya sadari ketika mengerjakan sesuatu dan segera diambil alih suami.

“Yang begini biar ayah yang ngerjain, Bu. Jangan sampai orang lain lihat, dikira ayah dholim sama istri sendiri. Ibu tinggal bilang aja. Ayah pasti bantu…”

Namun kadang saya suka lupa akan hal itu. Tetap merasa sungkan kalau harus minta bantuan. Terlebih kedudukan seorang istri yang masih tahu kalau harus “memerintah” suami. Entar muncul istilah istri menjajah suami, lagi. Meski semua itu tentu saja hanya pikiran -pikiran random dalam benak saya saja.

“Ranting ini cocok nih. Besarnya pas. Tapi agak bengkok. Mau cari yang lurus, takut gak keburu waktunya. Bagaimana ya baiknya?”

Suara suami membuyarkan lamunan saya. Saya pegang gagang yang terbuat dari ranting pohon jambu itu. Iya besarnya pas. Meski agak bengkok tapi enak dipegang dan nyaman saat digunakan untuk mengaduk atau membolak-balik sesuatu di wajan.

Saya setuju untuk menggunakan ranting pohon jambu itu saja. Suami pun langsung memakunya dan menguliti kulit pohon dari rantingnya.

“Nih, jadi juga. Lumayan ya bisa dipakai sementara sebelum beli yang baru,” setelah melihat-lihat hasil karyanya suami langsung mencucinya supaya bisa dipakai.

“Bagus. Buat sementa…hun juga ga apa. Kasihan kalau cuma sementara. Jadi anggarkan buat dipakai sampai tahunan saja,” seloroh saya yang diakhiri tawa kami bersama.

Sebelum magrib tiba, masakan untuk berbuka sudah selesai semua. Betul juga dengan bantuan suami yang membetulkan sodetan itu akhirnya proses masak memasak di dapur lebih mudah dan cepat. Kalau saya melakukannya sendiri, belum tentu masak bisa selesai tepat waktu.

Komunikasi dan informasi dengan pasangan dalam keluarga memang harus dikedepankan dan didahulukan, ya. Terciptanya komunikasi dan diskusi, insyaallah bisa menjadikan sebuah solusi yang disepakati bersama.

15 thoughts on “Dari Sutil Rusak Belajar Komunikasi Pasutri”

  1. teh Okti emang superwomaannn
    ya ampun kebayang dahhhh benerin genteng tuh kek gimanaaaaalhamdulillah value komunikasi bs kita peroleh dari peristiwa ini yah

    Reply
  2. Wow seru banget ini Teh Okti dari sutil yang rusak jadi ada komunikasi hangat pasutri. Good idea. Aku udah lama pakai sutil dari kayu lumayan awet, ada 5 tahunan belum rusak hanya warnanya tidak secerah awal beli, he he he

    Reply
  3. Hahahaha eh saya loh jadi ketawa duluan. Melihat sutil model barunya kok malah tambah keren loh Teh Okti. Gak ada tuh dijual di pasaran sutil dengan pegangan kayu jambu dengan bentuk meliuk-liuk gitu hahahaha.

    Saya juga seperti Teh Okti. Dulu sekali, karena lama melajang, saya terbiasa melakukan apapun sendiri. Apalagi saat saudara-saudara lelaki saya semua merantau dan saya anak perempuan satu-satunya yang tinggal dengan orang tua. Masang antena pernah. Ngecat rumah pernah. Benerin saluran air juga pernah. Suka dijuluki MacGyver sama temen-teman hahahaha. Dan itu kebawa saat nikah. Sampai akhirnya sadar bahwa peran suami harus diakui. Jadilah sekarang gampang nyuruh-nyuruh (ngekek).

    Reply
  4. Aku mengalami hal sama gak cuma pada sutil teh, tapi juga pisau yg gagang kayu. Hehehe. Gak langsung aq buang, soalnya papa jago banget ganti gagangnya. Kalau suamiku mah udah pasti suruh beli baru. Pisau paling berapa sih? Gitu kan mikirnya. Hahahaha.

    Tulisan yang sederhana tapi banyak pelajaran bisa dipetik di sini, tentang belajar komunikasi sebagai suami istri.

    Reply
  5. Kalau sudah punya rekan hidup jadi kudu harus inget kalau apa-apa itu harus saling komunikasikan ya Teh. Noted banget nih buat daku

    Reply
  6. Kalau udah terbiasa mandiri rasanya nggak enak minta bantuan pasangan tapi harusnya kalau dikomunikasikan jadi lebih enak. Kadang pasangan itu harus dibilangin karena pria kadang nggak peka kebanyakan. Syukurlah akhirnya sutilnya udah dibetulin dan bisa dipakai masak lagi.

    Reply
  7. MashAllah ya, teh..
    Seni berkomunikasi ini memang penting sekali terutama kepada pasangan. Agar semua bisa dipermudah dalam bekerjasama menghadapi masalah sehari-hari.

    Sutilku juga meleyot, teh..
    Huhuhu.. uda dilepas aja ganggang plastiknya. Jadi aluminium semuanya. Kata Ibukku pas datang, “Oh aku pingin sutil kayak adek..”

    Ternyata sutil yang udah gak bagus, kalau dilihat malah bisa jadi pingin yang melihatnya.
    Jadi memperbanyak bersyukur dengan keadaan apapun yang sedang kita hadapi saat ini.

    Reply
  8. komunikasi dalam rumah tangga itu memang koentji ya Teh, nyatanya dari sutil rusak pun kita bisa jadi belajar akan pentingnya komunikasi antara pasangan suami istri.
    saya juga kadang sih kalau bisa lakukan sendiri, malas minta tolong ke Paksu, apalagi kalau udah tau jawabannya, bentar, duuh kan bisa bikin gemess. hihih

    Reply
  9. Dalam filosofinya suntil rusak ini dalam rumah tangga ya teh. hehe.. Tapi emang betul banget. Asal komunikasi lancar, semua masalah rumah tangga bisa diperbaiki bersama. Yang patah dan rusak bisa diperbaiki lagi

    Reply
  10. Setuju banget teh. Komunikasi memang sangat penting.
    Gak harus ‘topik berat’ ngobrolin hal yang mungkin terlihat remeh sama pasangan juga manjur untuk menciptakan komunikasi yg baik dan keharmonisan keluarga.

    Reply

Leave a Comment