Liwetan yang Batal karena Menyeimbangkan Privilege

Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Mengabarkan besok setelah dibagi raport anak, para ibu dari orang tua murid kelas enam diajak ngaliwet di rumah salah satu siswa yang lokasinya dekat dengan sekolah tempat anak saya belajar.

Ternyata yang mengirim ajakan liwetan itu nomor orang tua teman anak saya. Dia tahu nomor saya kemungkinan dari group wali murid yang memangnya juga tidak saya simpan semua.

Sebelum membalasnya saya memikirkan dulu apakah esok ada rencana yang sudah lebih dulu dijanjikan? Mengambil raport memang biasanya dilakukan suami. Sekaligus ia juga berangkat ke sekolahnya. Saya pikir seperti biasanya maka esok hari pun yang akan mengambil raport anak ya ayahnya. Jadi saya seperti biasa mengerjakan pekerjaan sehari-hari di rumah saja.

Sempat terbersit keinginan untuk ikut acara liwetan ini. Terbayang seru dan ramai. Biasanya kalau para ibu kumpul, tak hanya akan ada acara utama makan makan nasi liwet saja, tapi juga berbonus kegiatan di luar ekspektasi lainnya.

Seperti jadi ajang jual beli bagi orang tua yang punya bisnis jualan. Belum dibumbui info menarik lainnya perihal kegiatan masing-masing, info seputar guru sekolah, sampai info terbaru para orang tua siswa itu sendiri.

Duh, sudah pasti semua kegiatan bakalan tumplek lah di acara dengan kedok liwetan itu. Siapa tidak tergiur untuk ikutan? Tapi dipikir lagi, seperti biasa saya gak mungkin ikut dengan acara mendadak seperti itu karena pekerjaan saya yang nantinya akan terbengkalai. Meski hanya sebagai lifestyle blogger ditambah pekerjaan domestik lainnya, tapi rasanya waktu saya kurang terus.

Jadi fix lah, saya putuskan saya tidak akan ikut acara liwetan itu. Segera saya balas pesan itu dengan kalimat pertama berupa permintaan maaf lalu selanjutnya menginformasikan jika saya tidak bisa ikut acara liwetan besok.

Liwetan yang Batal karena Menyeimbangkan Privilege

Setelah pesan terkirim, saya menarik nafas, cukup lega. Bagaimana pun saya sekarang seorang istri. Mau ada acara apapun, harus seizin suami. Meskipun acara liwetan besok terbilang dekat masih satu kampung tapi karena saya sudah memiliki agenda keseharian yang harus dilakukan, gak bisa meninggalkannya begitu saja.

Menginformasikan undangan acara liwetan ini ke suami pasti diizinkan, tapi saya merasa lebih tahu bagaimana kondisi saya saat ini. Suami bisa saja mengizinkan tapi masa tega saya meninggalkan pekerjaan saya lalu suami yang mengerjakannya?

Selama ini sebagai istri saya sudah mendapatkan privilege dari suami. Kebebasan berpendapat, kebebasan finansial, ikut acara kopdar di ibukota, kebebasan mengatur semua kegiatan di rumah hingga mendampingi anak. Saya tidak ingin memanfaatkan semua hak istimewa saya itu dengan aji mumpung.

Anggap saja waktunya yang kurang tepat. Kalau ada jeda waktu beberapa hari, tidak dadakan seperti ini, kirim informasi siang sementara caranya berlangsung besok, mungkin saya masih bisa mereschedul semua pekerjaan. Sehingga apa yang saya tidak bisa lakukan bisa digantikan oleh orang lain.

Saya sudah diberikan keleluasaan tanpa batas oleh suami. Dalam pernikahan kami, selain bagian daripada ibadah, niat untuk hidup bersama selamanya dalam ikatan janji pernikahan termasuk dengan perintilannya.

Sejak meluruskan niat untuk menikah, saya sudah meyakini akan ada begitu banyak aturan yang harus dipatuhi saya dan suami berdasarkan pada syariat agama Islam, keyakinan yang kami miliki.

Kodrat laki-laki dalam rumah tangga, selain wajib memberi nafkah juga diharuskan menjaga kehidupan istrinya. Ia berhak untuk melakukan segala hal demi keselamatan istri tercinta.

Salah satu hal paling penting dalam rumah tangga yaitu restu ataupun izin suami. Segala hal yang akan dilakukan istri, hendaknya telah diketahui dan direstui oleh suami.

Sesuai dengan keyakinan saya, ada empat keadaan dimana saya sebagai istri harus lebih dulu minta izin kepada suami.

Empat hal tersebut antara lain :

1. Ketika ingin berpuasa sunnah

2. Memasukkan orang lain ke rumah

3. Saat ingin keluar rumah

4. Memakai uang suami. Dalam arti diluar biaya yang pada umumnya diizinkan suami seperti kebutuhan dan biaya ringan. Istri harus meminta izin terlebih dahulu kepada suami jika ingin menggunakan uangnya dalam jumlah yang banyak seperti ketika hendak memberi pinjaman kepada orang lain, atau membangun bisnis dan yang memerlukan biaya-biaya besar lain.

Liwetan yang Batal karena Menyeimbangkan Privilege

Bagi orang lain hal ini mungkin dianggap berlebihan. Di jaman modern seperti sekarang masa sih masih ada aturan seperti itu? Bakalan banyak istri yang merasa terkekang dong?

Tapi tidak sejatinya bagi para istri yang mengetahui betul bagaimana besarnya tanggung jawab para suami sehingga sudah seharusnya istri bisa menyikapi akan privilege yang diberikan suaminya.

Mungkin saya belum bisa menyeimbangkan privilege dengan tanggung jawab moral. Tapi setidaknya ketika saya diberikan Tuhan berupa sedikit kelebihan misalnya skill, maka sudah sepantasnya saya pun bisa mematutkan kapasitas diri dengan tetap terus belajar.

31 thoughts on “Liwetan yang Batal karena Menyeimbangkan Privilege”

  1. Huhuhu bener banget teh. Jadi reminder buat saya. Saya memang selalu minta izin dulu apalagi kalo keluar rumah. Pandai-pandai kita berkomunikasi dengan suami agar apapun yang kita minta perihal izin menjadi ridho baginya ya teh.

    Reply
  2. Duh, udah lama juga gk pernah coba liwetan bareng. Terakhir saat sekolah dulu. Terkait cerita diatas mungkin harus berpandai-pandai dalam memilah serta melihat keaaddan juga ingin berpergian keluar terlebih jika sudah berkeluarga.

    Reply
  3. Saya pengen bgt nih ngaliwet lagi kaya zaman SMP. Biasanya ke rumah temen yg punya kolam ikan, lalu bikin nasi liwet, bakar ikan nila atau ikan mas yg besar, bikin sambel goang, dan semua dibawa ke bukit terdekat untuk makan sambil menikmati suasana bukit. Seru bgt pokoknya.

    Reply
  4. Liwetan emang seruu ya, Teh karena bisa sekalian sambung silaturahmi. Tapi kalau mendadak begini ya susah, bisa bentrok waktunya. Sebenernya kalau ada undangan H-7 atau maksimal H-3 ya bisa ditoleransi.

    Reply
    • Setuju. Saya suka juga pergi bareng temen-temen, tapi sama seperti Teh Okti, lihat sikon dulu. Kalau kerjaan di rumah udah beres dan suami ngajar ke kampus. Ada hari-hari yg suami kerja dari rumah…ya saya engga pergi dong…hehe…

      Reply
  5. betul banget Teh, karena tindak tanduk istri merupakan tanggung jawab suami, istri adalah pakaian suami begitu pula sebaliknya
    saya enggak merasa terkekang dengan beberapa hal harus izin suami karena sayapun tahu batasannya dan saya menikmati batasan itu

    Reply
  6. Seru banget ya liwetan apalagi liwetan ini kaya udah semacam tradisi bagi orang Sunda kalau ada apa-apa pasti liwetan. Tapi, biarpun seru tetap harus memprioritaskan kewajiban kita yang lain. Masya Allah jadi reminder juga sih buat aku yang udah dapet previllage untuk dapat menggunakannya dengan baik.

    Reply
  7. Jujurly, aku sering izin loh kalau diajak kumpul bareng wali murid. Ya sesekali ikut sih biar kenal, tapi sering nggak ikut karena ada pekerjaan lain juga. Meskipun aku dan suami LDR, aku juga tetep minta izin terlebih dahulu Teh…

    Reply
  8. Prioritas utama seorang wanita yang sudah menikah dan yang belum pastinya berbeda ya. Masukan dan pembelajaran bagus dari pengalaman Teteh ini buat daku dan semua

    Reply
  9. Wah, saya baru tahu soal liwetan nih..kayaknya seru yaa. Makan bareng-bareng. Tapi kalo harus meninggalkan kerjaan, ya memang lebih tepatnya kayak Teh Okti ga usah ikutan.

    Reply
  10. Kangen juga liwetan sama teman, kalau acaranya dadakan juga aku suka mikir dua kali (berkali-kali) anak-anak sama siapa jaga,makanannya, beberes rumah, schedule harian yang berantakan hanya karena keingina bersenang-senang yang sesaat.

    Reply
  11. Liwetan sungguh enak teh apalagi kalau yg se-frekuensi yaa cuma kalau dadakan dan bakal awkward aku milih nggak ikut..
    Iyah tumplek jadi satu.. kalau sama komunitas malah enakeun aku lebih nyaman. Setuju, izin suami penting..aku pernah ngebandel gitu trus kesusahan duh nggak lagi2

    Reply
  12. Wah seru pastinya ya mbak kalau bikin acara liwetan ini bareng sahabat dan keluarga.Tapi memang ketika kita seorang istri ada acara bersama teman, seharusnya minta izin agar suami tidak khawatir

    Reply
  13. Sepakat mbak, ijin suami ini penting banget dalam segala hal.
    Saya pun, walau bekerja dan punya penghasilan sendiri, kalau mau beli apa-apa di luar kebutuhan sehari-hari pasti ijin suami. Walau pakai uang saya sendiri, tapi ini bagian dari keterbukaan dan penghargaan terhadap suami

    Reply
  14. Wahh iya the, berasa ketampar banget dan jadi self reminder nih. Emang seru sihh liwetan tapi kalo emang ada prioritas lain yang harus didahulukan ya ngga papa kalau ngga ikut. Semoga next bisa ikutan kalau udah longgar.

    Reply
  15. Masya Allah … udah benar itu teteh, harus seizin suami walau kayaknya gitu doang. Akupun bakal tergoda ikutan, ingin kumpul, me-time gitu lah, hihi… tapi tetap harus izin dan mempertimbangkan suami ada pekerjaan atau tidak.

    Reply
  16. Waah liwetaan begitu menggoda. Aku sering dapet ajakan liwetan entah itu dadakan atau beberapa hari sebelumnya, kadang suka absen, karena mempunyai prioritas lain.
    Balik lagi semua adalah pilihan ya teh, aplagi ketika sudah berkeluarga, izin sama pasangan/anak adalah hal wajar, meski sebenernya diberikan keleluasaaan, cuma lebih tsadar diri kalau aku.
    Bagi mereka ada yang merasa terkekang dengan aturan2. ada yang juga happy karena memang kita yang memilih . Makasih teh remindernya buat kita semua.
    JAdi kapan kita liwetan bareng iihhh..

    Reply
  17. Setuju banget sama Mba Okti. Ya, sebenernya ketika kita minta izin untuk datang ke acara liwetan atau di daerah saya sering disebut sebagai ‘bancakan’, suami pasti mengizinkan.

    Tapi ya, jangan mendadak gitu ya. Biar kita para istri itu bisa mempersiapkannya.

    Jangan karena suami izin ini dan itu, kita jadi lalai dan sesuka hati.

    Catatan yang bagus, Mbak, bisa buat intropeksi diri saya. Sudahkah saya baik sama suami? Atau malah seenaknya? Hihihi.

    Terima kasih, yaa..

    Reply
  18. Aku belum menikah, tapi lihat Mbak-mbakku yang always izin sama suami, memang begitu harusnya. Aku sendiri jarang suka ikut acara dadakan meski kadang gak ke mana-mana. Ya, kita paling tahu kapasitas diri itu di mana

    Reply
  19. Aku pun teh, jangankan yang dadakan, yang udah direncanakan jauh hari aja kadang batal hihihi. Jadi kalau dadakan dan mungkin akan merusak planning to do list hari itu kyknya juga gak akan hadir.
    Bener nih kalau udah jadi istri ya apa2 izin suami dulu krn gimanapun suami yg kini bertanggungjawab ya. Bersyukur kalau suami gak pernah larang dan istri juga senang menjalani perannya.

    Reply
  20. masya Allah, senang baca sikap takzim teh Okti ke suami. semoga dimudahkan segala urusannya ya teh. untuk urusan perliwetan aku sebenarnya ga ahli jadi biasanya memilih orang lain yang memasak hehehe

    Reply
  21. Toss
    Saya juga dapat privilege dari suami untuk tidak maksakan diri mencuci baju
    Kecuali underwear memang harus cuci sendiri untuk semua seisi rumah
    Akhirnya saya tidak menjadikannya sebagai alasan untuk minta ini dan itu

    Reply

Leave a Comment