Masuk Sekolah PAUD Pendidikan Karakter Apa yang Didapat?

Awal tahun ajaran kali ini, ada dua orang keponakan saya dan putra-putri tetangga dekat rumah menyekolahkan anaknya masuk PAUD.

Kesibukan baru mereka –orang tua dan anaknya– kerap terlihat setiap hari sekolah. Bagaimana tidak sibuk, jika para ibu kini tak hanya mengantar anak saat berangkat atau menjemput ketika pulang saja, melainkan menemani alias menunggu anak-anaknya di sekolah bahkan ada ibunya yang ikut berada di kelas!

Otomatis aktivitas keseharian mereka para ibu rumah tangga ini jadi berubah. Menyesuaikan dengan jadwal mendampingi anak sekolah hingga pulang, baru bisa mengerjakan pekerjaan di rumah.

PAUD, tempat sekolah anak dan emaknya?

Sudah jadi guyonan antar sesama saat mereka lewat, kalau jaman sekarang ini yang sekolah tidak hanya anaknya, tapi juga emaknya.

Yah, mau bagaimana lagi, masyarakat saat ini tidak bisa mengelak, anak yang masih belum bisa berpisah dari orang tuanya, kini harus mulai bersekolah sebagaimana ketentuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini.

Orang tua tetap mendaftarkan anak masuk PAUD meski gak bisa menjawab ketika ditanya masuk sekolah PAUD memang bakalan mendapatkan pendidikan karakter apa saja?

Pendidikan Karakter PAUD
Sumber: Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini.

Pentingnya PAUD dan Pendidikan Karakter

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada hakikatnya adalah taman persemaian karakter bangsa yang dilakukan melalui permainan dan pembiasaan.

Masih banyak yang tidak memahami betapa pentingnya peran PAUD dalam pengembangan pendidikan karakter. Padahal dari situlah masa-masa emas untuk membentuk pemimpin-pemimpin masa depan Indonesia seharusnya dimulai.

Indonesia tidak akan maju tanpa PAUD yang baik. PAUD yang baik dan berkualitas memiliki peran sentral dalam membentuk pemimpin-pemimpin masa depan yang unggul. Serta menyiapkan Generasi Emas 2045, yaitu generasi yang berkarakter baik, berpengetahuan dan memiliki keterampilan yaitu berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif.

Pendidikan karakter di satuan pendidikan, termasuk satuan PAUD, bukanlah hal yang baru. Semua satuan pendidikan di Indonesia telah melaksanakannya.

Relevansi Pendidikan Karakter pada PAUD

Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa:

Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Pasal 1).

Bentuk satuan PAUD melalui jalur pendidikan formal adalah Taman Kanak-kanak (TK). Sementara jalur nonformal nya ada Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), Satuan PAUD Sejenis (SPS), dan jalur pendidikan informal dilakukan di keluarga dan lingkungan atau masyarakat.

Di sekolah PAUD  anak diberikan materi dasar untuk semua aspek perkembangan individu, yang meliputi pendidikan agama dan moral, fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni (Permendikbud No. 137 Tahun 2014 tentang Standar PAUD).

Sedangkan dalam struktur kurikulum PAUD, upaya pencapaian standar tersebut digambarkan dalam bentuk kompetensi inti sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan (Permendikbud No. 146 Tahun 2014 tentang Kurikulum PAUD 2013).

Dalam proses pembelajaran di PAUD hampir semua materi kompetensi dasar dilaksanakan dengan mengintegrasikan ke enam aspek perkembangan anak.

Keterpaduan dalam proses pembelajaran di PAUD (melalui bermain) pada hampir semua materi itu sebenarnya mengarah pada pembentukan karakter anak.

Pendidikan Karakter PAUD belajar tanggung jawab
Sumber: Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini.

Kendala Pendidikan Karakter Usia PAUD

Pentingnya pola asuh yang tepat pada anak-anak usia dini sayangnya tidak disadari oleh banyak orang dewasa di sekitar mereka, baik di keluarga, satuan PAUD, maupun di masyarakat.

Kendala pendidikan karakter di keluarga

Di keluarga, setiap orang tua hampir dipastikan sangat mendambakan anak yang mandiri, disiplin, dan berperilaku baik lainnya.

Namun sangat mudah sekali ditemui orang tua yang tidak menunjukkan perilaku yang mampu memberi contoh tentang nilai-nilai itu.

Sebagai contoh, banyak orang tua yang mengantarkan anaknya ke PAUD dengan naik motor tanpa mengenakan helm.

Contoh lain banyak dari para orang tua tanpa sadar menjauhkan anak dari sifat mandiri dengan membawakan tas anak, selalu menyuapi makan, dan menuruti yang diinginkan anak.

Selain kontradiksi itu, banyak anak usia dini yang tidak terlepas dari masalah yang dihadapi keluarga saat ini yang sedikit banyak dipengaruhi oleh perubahan-perubahan global dalam semua sendi kehidupan.

Penggunaan teknologi informasi yang semakin canggih (smartphone) membuat anak-anak sejak usia dini terpapar banyak hal dari berbagai media. Hal itu tentu saja berpengaruh pada diri anak, misalnya anak memperoleh informasi yang terkadang kurang sesuai dengan kebutuhan dan usia perkembangannya, anak menjadi kurang fokus, kurang sabar, dan kurang melatih motoriknya.

Pola komunikasi dalam keluarga pun berubah akibat kesibukan orang tua yang tinggi. Anak menjadi kurang memiliki kelekatan (attachment) dan kurang merasakan sentuhan.

Dampak modernisasi juga sangat terasa di keluarga, misalnya orang tua semakin tidak memiliki waktu yang memadai untuk menemani bermain, membacakan cerita sebelum tidur, atau membimbing dan menemani anak dalam kegiatan sehari- hari seperti sikat gigi, membersihkan diri, dan makan.

Selain itu, muncul sikap orang tua yang kerap kurang sabar dalam menghadapi berbagai perilaku anak dan bahkan sebagian melakukan kekerasan pada mereka.

Kendala pendidikan karakter di satuan PAUD

Kurikulum 2013 PAUD menuntut guru (di satuan PAUD formal) dan pendidik (di satuan pendidikan non formal) untuk mampu mengintegrasikan penanaman dan penumbuhkembangan karakter dalam beragam kegiatan sesuai dengan tema dan sub tema yang ditetapkan.

Namun, sumber daya manusia yang dimiliki PAUD yang sebagian besar diselenggarakan oleh lembaga di masyarakat, sangat beragam dengan dominasi guru pendidik berkompetensi rendah.

Keterbatasan sumber belajar baik untuk guru dan pendidik, orang tua, dan anak juga merupakan faktor yang menyumbang pendidikan karakter yang kurang optimal.

Selain itu, kemauan orang tua yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip pembelajaran untuk anak usia dini sering kali dituruti oleh guru atau pendidik karena ketidakmampuan mereka untuk merespons secara tepat.

Kendala pendidikan parakter di masyarakat

Saat ini nilai-nilai dalam masyarakat yang berubah dan semakin terbuka menyebabkan perubahan dalam diri anak.

Secara tidak disadari anak terpapar oleh berbagai informasi yang belum tentu baik, benar, dan bermanfaat bagi perkembangan mereka.

Kekerasan, ucapan kasar, dan perundungan (bullying) yang ditonton di TV, dilihat, atau juga dialami langsung baik di dalam dan luar rumah, termasuk di satuan PAUD, dapat memberi pesan negatif pada anak. Dengan mudah anak dapat meniru dan mengikuti perilaku itu.

Hal ini tidak akan terjadi jika orang tua dan guru pendidik menerapkan pola pengasuhan yang melatih anak untuk mulai mengenal benar dan salah, serta memberi teladan dan membiasakan perilaku baik.

Pendidikan Karakter PAUD belajar mandiri
Belajar mandiri. Sumber: Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini.

Nilai-Nilai Utama Pendidikan Karakter di PAUD

Terdapat lima nilai utama karakter yang ditekankan berdasarkan Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018. Kelima nilai utama karakter bangsa beserta banyak subnilainya ini tidaklah berdiri sendiri tapi saling berkaitan.

Berikut ini beberapa subnilai dari kelima nilai utama itu yang merujuk di antaranya dari Kompetensi Dasar yang ada pada Permendikbud Nomor 146 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini, serta penerapan dalam Pedoman Penanaman Sikap Pendidikan Anak Usia Dini Tahun 2018 adalah sebagai berikut.

Religiositas

Nilai yang mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, serta hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain.

Diharapkan anak usia dini sudah terbiasa  dengan nilai keimanan dan bertaqwa, cinta damai, toleran, menghargai perbedaan, teguh pendirian, percaya diri, mau bekerja sama, kasih sayang, bersahabat, tulus, menghargai pendapat orang lain, mencintai lingkungan, hidup bersih, sehat, dan melindungi yang kecil dan tersisih.

Nasionalisme

Nilai nasionalisme merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, serta menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

Anak usia dini sudah dibimbing untuk paham akan cinta tanah air, mengikuti aturan, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku, dan agama serta menghargai diri sendiri.

Kemandirian

Nilai kemandirian merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain serta mempergunakan segala tenaga, pikiran, dan waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi, dan cita-cita.

Anak usia dini sudah dikenalkan dengan kebiasaan tekun bekerja, sikap tangguh dan daya juang, mengikuti aturan, mengembangkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan keberanian.

Gotong Royong

Nilai gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja sama dan bahu-membahu untuk menyelesaikan persoalan bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan  kepada orang-orang yang membutuhkan.

Mengenalkan nilai gotong royong pada anak usia dini seperti dengan mengajak untuk menghargai karya orang lain, menghargai kesepakatan bersama, bekerja sama, membiasakan musyawarah, mufakat, dan diskusi, tolong-menolong, mengembangkan sikap solidaritas, berempati, anti diskriminasi, anti kekerasan, kesetiakawanan, dan sikap kerelawanan.

Integritas

Nilai integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang berlandaskan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan serta memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral.

Karenanya sejak dini di PAUD dikenalkan sikap tanggung jawab sebagai warga negara, antikorupsi, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, komitmen moral melalui konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran, kesabaran dan keteraturan (seperti antre), kejujuran, cinta pada kebenaran, setia, memenuhi janji, keadilan, keteladanan, dan menghargai teman, termasuk mereka yang berbeda (misalnya yang memiliki disabilitas).

Pendidikan Karakter PAUD berdoa sebelum tidur
Berdoa sebelum tidur. Sumber: Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini.

Kelima nilai utama karakter bukanlah nilai yang baru, berdiri, dan berkembang sendiri-sendiri, melainkan nilai yang sudah ada sebelumnya dan berinteraksi satu sama lain, yang berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi.

Jadi jika ada yang bertanya pendidikan karakter apa saja yang bisa didapatkan anak di sekolah PAUD? Sekarang sudah bisa menjawab dong ya…

Nilai religiositas sebagai cerminan dari iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa diwujudkan secara utuh dalam bentuk ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing.

Dalam kehidupan sebagai masyarakat dan bangsa, nilai-nilai religiositas tersebut melandasi dan melebur di dalam nilai-nilai utama nasionalisme, kemandirian, gotong royong dan integritas.

Demikian pula, jika nilai utama nasionalisme dipakai sebagai titik awal penanaman nilai-nilai karakter, nilai ini harus dikembangkan berdasarkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan yang tumbuh bersama nilai-nilai lainnya.

Pendidikan Karakter PAUD buang sampah pada tempatnya
Buang sampah pada tempatnya. Sumber: Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini.

Pendidikan Karakter Membumikan Pancasila

Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di PAUD ini dilaksanakan dengan mengajak orang tua dan masyarakat untuk bekerja sama mendukung anak-anak kita menghadapi tantangan masa depan.

Penguatan Pendidikan Karakter mendorong seluruh satuan pendidikan untuk mengembangkan jejaring tripusat pendidikan dengan membumikan Pancasila melalui pembiasaan nilai utama penguatan pendidikan karakter yaitu religiositas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong dan integritas sesuai dengan visi misi, kearifan lokal dan kreativitas.

Semoga semakin banyak PAUD yang memiliki komitmen dan inisiatif menggerakkan PPK dalam rangka menunjukkan Generasi Emas 2045 yang berjiwa Pancasila, cerdas, berkarakter, tangguh, dan berdaya saing.

Untuk menambah wawasan kita terkait pendidikan karakter, yuk baca juga artikel menarik berikut ini: Kenapa Pendidikan Karakter Tidak Hanya untuk Anak PAUD, Tapi Juga Orang Dewasa?

19 thoughts on “Masuk Sekolah PAUD Pendidikan Karakter Apa yang Didapat?”

  1. Kalau diperhatikan emang ibu-ibu yang anaknya masuk TK atau PAUD emang jadi kayak ikut sekolah. Meski nggak ikut masuk ya mereka nungguin anaknya sampai pulang sekolah gitu.

    Reply
  2. Jadi ingat sewaktu anak saya pertama masuk TK, awalnya ditungguin, tapi lama-lama sudah terbiasa ditinggal. Jadi, istri saya bisa beberes rumah . Kebetulan jarak dari rumah, dekat banget, jadi nggak perlu antar jemput, biar mandiri.

    Reply
  3. Orang tua dalam memilih sekolah mulai dari paud hingga universitas harus mencari tau value apa yang diajarkan. Agar sesuai dengan value keluarga dan selaras dengan didikan orang tua.

    Reply
  4. Iya juga ya paparan medsos di masa kini bisa berdampak kurang oke untuk perkembangan anak. Sehingga kudu tepat dalam menerapkan pendidikan karakter kepada anak

    Reply
  5. Nilai-nilai pendidikan karakter untuk PAUD ini bisa jadi pegangan nih buat semua guru-guru dan orang tua. Kadang kita mikir kan, kalau PAUD, pendidikan karakter yang utama untuk diajarkan apa dulu? Lebih tepatnya saya pribadi yang bertanya, jawabannya ya ada di artikel ini.

    Reply
  6. Bersyukur anak saya ketika di PAUD mendapatkan kelima nilai utama pendidikan karakter tersebut. Memang sih pendidiknya adalah ibu-ibu sekitar, tapi mereka mendapat bekal/pelatihan mengajar dari Dinas Pendidikan loh…

    Reply
  7. pendidikan karakter di PAUD/TK itu penting sih, karena dasar menuju masa anak-anak kan, pendidikan karakter seperti etika, hubungan interpersonal dan agama saya lihat cukup penting dan berpengaruh terhadap perkembangan karakter anak

    Reply
  8. Pendidikan PAUD ini cukup penting dan krusial yaa..
    Karena dari mulai pembiasaan yang baik di lingkungan sekolah hingga pengasuhan yang tepat akan menumbuhkan karakter-karakter baik pada anak.

    Reply
  9. yang paling aku rasain sih kemandiriannya yaah, bener2 yang mandiiri gitu anakku habis masuk PAUD. dan dia lebih dengerin kata2 gurunyaa wkwk

    Reply
  10. Banyak juga yang salah kaprah pengen anak sekolah ke PAUD terus sudah pengen bisa baca tulis. Padahal yang penting memang pendidikan karakternya yang ditanamkan untuk anak-anak sebagai pondasi di kehidupannya kelak

    Reply
  11. Lengkap jg ya pembelajaran di PAUD skrg. Lagi pula anak zaman skrg jg udh pintar2. Dikasih tahu sedikit jg udh mulai paham. Mknya org tua skrg jg udh mulai masukin anak ke PAUD sejak dini. Ya hitung2 bs ngasih pembelajaran, terutama karakter sejak dini. Soal calistung ya bisa diajarin secukupnya.

    Reply
  12. Yess, bulan ini anak saya masuk PAUD. Beruntung masuk ke salah satu sekolah yang menanamkan pendirikan karakter dan adab. Jadi, sebelum ilmu, karakter dan adab ditanamkan di sini.

    Cuma saya masih berjuang biar anak mau ditinggal. Semoga perlahan mau ditinggal deh, gak ditungguin terus, biar bisa mandiri juga.

    Reply
  13. Wkwkwk jadi sumpek ya di kelas soalnya emaknya juga ikut masuk kelas. Gimana anak mau mandiri kalau masih dilayani aja. Dulu aku waktu TK, pihak sekolahnya tegas kalau orang tua tidak boleh menemani anak. Hanya boleh antar jemput ajaa. Sontak di awal2 kami semua ngereog, tapi lama-lama terbiasa juga.

    Reply
  14. Kalo anakku pendidikan karakteristik disekolah itu malah kecil prosentasinya. Karena ajaran orsng Turki sama orang Indonesia kan jauh berbeda. Jadi aku lebih sering mencotohkan anakku sich.

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics