Menyendiri untuk Mewaraskan Diri

Kecuali orang tua, belasan tahun bersama tidak menjamin siapa pun bisa memahami karakter dan keinginan kita. Apalagi kalau disertai komunikasi yang buruk.

Disinilah aku saat ini. Menyibukkan diri dalam kesendirian. Tanganku sakit, entah karena salah urat, atau semacam rematik. Paha dan beberapa bagian kulit di tubuh juga masih gatal dan menimbulkan demam efek dari semacam bisul yang memerah. Bikin aku gak bisa duduk tegak karena jangankan tertekan, saat tersentuh atau terkibas pakaian pun langsung ngilu.

Tapi semua itu bukan alasan untuk aku hanya bisa diam. Tak hanya menghindari cemoohan aku kaum rebahan tapi lebih ke manajemen waktu yang harus ku gunakan sebaik mungkin.

Aku tidak ingin menunggu tanganku gak bisa digerakkan karena misalnya stroke, lalu menyesali diri karena sama sekali gak bisa mengerjakan apa pun, nanti. Penyesalan yang ada tidak akan ada gunanya. Karena itu saat ini meski harus menahan sakit, selagi aku bisa aku mencoba melakukan semuanya.

Yang paling aku suka saat mencuci pakaian, menyetrika, menyapu halaman lalu membakar semua sampah di belakang. Tentu saja setelah menyelesaikan hal yang harus lebih dahulu dikerjakan, seperti memasak nyiapin sarapan sekaligus makanan untuk keluarga.

Ketika mencuci pakaian, aku bisa melampiaskan segala emosi pada sikat dan noda yang membandel. Dampaknya, meski ada noda yang tidak bisa hilang, cucian jadi tampak bersih maksimal.

Saat menyetrika, aku bisa menggunakan handuk kecil yang sengaja kubuat sebagai penahan panas dari elemen untuk ditempelkan di bagian kulitku yang gatal mirip bisul itu. Gatal dan nyeri yang tidak tertahankan bisa jadi obat pengalah alami. Ngeri-ngeri sedap tapi aku menikmatinya. Salep dari apotek tak ada tanding khasiatnya dibanding panas dari setrika yang kutempelkan pada bagian kulit yang gatal-gatal.

Sedangkan saat menyapu halaman, terlebih saat musim kemarau, suara kosrak kosrek antara sapu lidi dengan dedaunan yang mengering menjadi musik alami yang sangat menentramkan dan mendamaikan. Inginnya berlama-lama tapi masa iya halaman udah bersih tetap disapu? Atau sampah yang sudah terkumpul aku hambur-hamburkan lagi?

Beralihlah membakar semua sampah yang sudah terkumpul di perapian belakang rumah. Asap yang berhembus dari pembakaran daun salam yang mengering membawa harum asap yang tidak biasa. Wanginya sangat berbeda dan karena saking seringnya membakar daun salam kering itu, bau harumnya sudah seperti aroma terapi bagi indra penciumanku ini.

Kegiatan seperti itu kulakukan sendiri saat tiada orang yang peduli lagi dengan keberadaanku. Diam menyendiri, sambil melakukan pekerjaan rumah tangga adalah topeng yang kugunakan dibalik me time yang sangat tidak lazim.

Ya, tidak lazim karena sebagian orang menganggap me time itu identik dengan shoping, ngopi cantik, perawatan kecantikan dan tubuh, atau kegiatan memanjakan diri sejenis lainnya, bukan?

Me time ku ini yang kesandung kondisi dan keadaan mungkin memang berbeda dengan me time manteman semuanya. Namun saat itulah, saat menyendiri tapi tidak mubadzir membuang waktu berlalu begitu saja aku bisa terhindar dari percekcokan yang mungkin saja bisa memperparah keadaan. Dengan menyendiri tapi tetap bekerja aku bisa merasa bisa mengendalikan emosi, meski tanggapan orang lain bisa berbeda bahkan bisa salah paham. Tak apa memang selama ini ada yang peduli padaku?

Aku lebih baik menarik diri dari interaksi daripada dianggap memarahi orang lain, atau tidak menghargai orang yang seharusnya aku hormati. Meski menimbulkan salah paham dianggap aku cuek atau tidak ikhlas.

Btw, ngomongin soal ikhlas, sebenarnya aku melakukan apapun tak berdasarkan penilaian manusia, melainkan karena semua itu sudah seharusnya kulakukan. Mungkin bisa dibilang karena Tuhan juga, ketika aku tidak lupa mengucapkan “dengan nama tuhan yang maha pengasih dan penyayang” sebelum memulai semuanya. Jadi saat orang menilai apapun tentangku, gak ngaruh sama sekali.

Merasa beruntung aku orangnya tidak baperan. Selama orang tidak berbicara khusus padaku, apa pun selentingan yang kudengar, kuanggap angin lalu. Masuk telinga kiri segera keluar melalui telinga kanan. Beres tanpa sedikit pun mampir apalagi singgah di hati. Jadi percuma ngomong apa pun kalau yang ngomong itu tidak menghadapku langsung untuk bisa aku anggap “Oh, omongan itu buatku?”

Jika ada orang seperti itu, bicara denganku langsung, baru aku akan merespon (tapi bukan baper) dan memikirkan tindak lanjut nya.

Hidupku sudah sulit, aku tidak akan mempersulitnya lagi. Aku tidak punya tempat dan kepercayaan lagi jadi lebih baik kusiapkan sendiri space untuk diri ini. Ingin kuciptakan kondisi raga yang sudah terkurung tapi jiwaku masih bisa bebas melancong kemana-mana.

Mencuci pakaian, menyetrika dan nyapu halaman lalu membakar sampahnya menjadi ajang me time yang sudah memberikan manfaat serta refleksi saat menyendiri.

Mungkin itu alasannya banyak yang bilang me time bisa membuat ibu rumah tangga menjadi lebih rileks. Bikin emosi negatif yang muncul menjadi lebih terkontrol. Ketika menghadapi masalah, pikiran menjadi lebih jernih dan lebih gampang memikirkan jalan keluarnya.

Dengan tidak mengenyampingkan quality time, waktu yang kuhabiskan dengan keluarga, pasangan, teman, dan orang-orang terdekat lainnya, aku masih bisa menghabiskan waktu bersama diri sendiri.  Dan prioritasku saat ini menyendiri sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sama sekali tidak keren, huh?

Meski sesaat bisa melakukannya di tengah segala rutinitas dan kesibukan, waktu menyendiriku ini jadi suatu kemewahan yang bisa menjaga kesehatan dan kesejahteraan mentalku.

Jangan salah kaprah kalau aku menyendiri dengan hal tidak biasa untuk menghabiskan waktu untuk diri sendiri ini diasosiasikan dengan kesepian, sedih, atau antisosial.

Jangan merasa kalau aku meluangkan waktu sendirian, padahal dikelilingi orang terkasih dianggap tak menghargai atau menyepelekan jika hal itu justru penting bagi tubuh dan baik untuk menjaga kesehatan mentalku.

Jujur aku butuh waktu untuk memberikan kesempatan otak ini untuk beristirahat, menjernihkan pikiran, mengurangi stres, sekaligus merevitalisasi tubuh.

Aku perlu waktu untuk bisa meningkatkan konsentrasi dan produktivitas karena pikiran jadi lebih jernih.

Saat (pikiranku) menyendiri sambil mengerjakan pekerjaan rumah itu seolah aku bisa mengetahui apa yang benar-benar diinginkan diriku dan lebih mengenal diri sendiri.

Tidak seberapa penting berapa lama durasi me timeku, selama aku bisa konsentrasi dan konsisten.

Tidak melakukan apa-apa, hanya terdiam dan berhenti memikirkan sesuatu disebabkan family burnout, adalah waktu yang sangat berharga untukku saat ini.

Tulisan ke-3 three day on post dari Founder Komunitas ISB, Ani Berta, dengan tema “Me Time”

4 thoughts on “Menyendiri untuk Mewaraskan Diri”

  1. Menyendiri sejenak memang diperlukan, biar hati dan pikiran bisa lebih tenang. Jika harus melampiaskan, maka lakukanlah tetapi pada hal yang positif. Sehat² selalu buat kita semua ya Teh

    Reply
  2. Aku juga lebih sering memilih menyendiri untuk mendalami diri sendiri. Terkadang menyendiri itu bukan bentuk pelarian tapi ada semua kebahagian tersendiri dalam menikmati suasana yang hening. Lebih dapat merefleksikan diri sendiri.

    Reply

Leave a Comment