Nyicil Tulisan Dulu, Jadi Bloger Kemudian

Beberapa teman waktu kecil dan kini sudah sama-sama tua ada yang bertanya saat kami bertemu ketika liburan akhir tahun kemarin. Katanya kok bisa saya jadi blogger? Mereka mengaku sering melihat kegiatan saya di berbagai sosial media yang memang kadang saya share link artikel blog pribadi di sana. Sebagai salah satu upaya menarik calon pembaca untuk lebih mudah mengunjungi blog saya.

Saya tertawa. Bukankah semua orang bisa banget kok jadi bloger (dan bahkan jadi apapun)?

“Terus itu bagaimana prosesnya bisa jadi bloger?” pertanyaan lebih jauh dari salah satu teman yang kini tinggal di luar Pulau Jawa membuat saya ambil keputusan untuk membuat artikel ini.

Nyicil Tulisan Dulu, Jadi Bloger Kemudian

Secara jujur, bagi saya jadi bloger itu tidak bisa instan. Ibarat untuk mendapatkan job, kita butuh tips melamar kerja yang benar Jadi bloger gak bisa asal hanya punya kemampuan bisa menulis saja. Melainkan harus melalui berbagai tahapan dan jenjang (kalaupun tidak ikut pelatihan dan semacamnya). Progresnya teramat panjang…

Saya sangat ingat jika sejak kecil sudah diberi Tuhan kemudahan untuk bisa menulis dan membaca. Meski kondisi keluarga sangat kekurangan, bahkan saya hampir tak mau berangkat daftar masuk sekolah formal karena malu dan minder dengan kondisi dan keadaan, tapi selalu saja ada waktu dan kesempatan yang mendukung sehingga saya bisa memperlancar kemampuan membaca dan menulis.

Kesenangan akan membaca ini semakin muncul lebih besar manakala orang tua sering berjualan di Pasar Kiaracondong Bandung dan di sana saya menemukan lapak pedagang majalah serta koran dan buku-buku bekas yang bisa bebas saya baca walau tidak membelinya.

Selama ikut orang tua jualan, saya betah menitipkan diri di si mamang penjual majalah bekas itu. Begitu juga si mamang tak keberatan saya menemaninya di lapaknya. Bahkan dia sering mengatakan pada orang lain, menyukai anak kecil yang sudah suka membaca seperti saya.

Si mamang penjual buku dan majalah bekas sering meminjamkan majalah anak supaya saya bisa membacanya di rumah dan tak perlu mengumpulkan lagi kertas pembungkus gorengan atau koran bekas pembungkus yang sudah koyak hanya demi bisa menuntaskan rasa penasaran untuk membacanya. Hehe, memang karena saking sukanya membaca, kertas apapun sering saya pungut untuk membacanya dulu sebelum kemudian membuangnya.

Kesenangan akan membaca ini menjadikan saya lebih menyukai pelajaran bahasa Indonesia dibandingkan pelajaran lainnya. Saya sangat antusias jika ada pelajaran Bahasa Indonesia khususnya tugas mengarang.

Dulu, setelah liburan sekolah biasanya guru membuat tugas kepada semua murid untuk mengarang menceritakan pengalaman selama berlibur. Jika teman-teman lain menulis satu halaman saja tidak pernah penuh, maka saya akan meminta kertas baru sehingga bisa menulis sebanyak dua lembar atau empat halaman.

Nyicil Tulisan Dulu, Jadi Bloger Kemudian

Semakin besar, saya merasa semakin tertarik dengan dunia sastra. Ketika ada tetangga yang membeli koran saya sering pinjam untuk membaca khususnya bagian cerpen cerbung dan atau puisi serta sajak.

Meski masih jauh dari kata layak, tapi saya sudah memiliki keinginan untuk mengirim karya tulis ke redaksi koran dan majalah itu. Dari sekian banyak majalah anak dan surat kabar daerah yang saya kirimi naskah, akhirnya ketika SMP ada salah satu karya kiriman saya berhasil dimuat. Senang banget pastinya. Pecah telor.

Karena terbentur masalah ekonomi, saya harus pindah domisili demi bisa melanjutkan sekolah. Ternyata hal itu justru membawa nilai positif karena dengan pindah sekolah dan tempat tinggal saya bisa tetap berkomunikasi dengan surat menyurat. Secara tidak langsung kemampuan tulis menulis dan merangkai kata saya semakin terasah.

Secara sendirinya saya juga jadi mendapatkan banyak sahabat pena. Baik yang jumpa melalui perkenalan yang berawal dari kolom pembaca di surat kabar dan atau teman sekolah dulu yang masih berlanjut berkomunikasi melalui surat menyurat hingga lulus sekolah.

Ketika saya menjadi TKI, kegiatan surat menyurat kembali meningkat. Saat itu belum ada telepon apalagi internet. Sahabat pena saya tak hanya berada di dalam negeri tapi juga beberapa di luar Indonesia.

Semakin terpacu untuk terus mengasah kemampuan menulis, saya mencoba bikin cerita dan dikirim ke radio, surat kabar dan buletin migran. Sesekali ikut lomba dan ketika berkesempatan menang, senangnya tak ketulungan.

Ketika dunia semakin marak dengan masuknya jaringan telepon saya terpacu juga untuk meningkatkan kemampuan menulis dengan belajar jurnalistik, menulis blog dan magang jadi reporter kegiatan buruh.

Dunia menulis dan membaca semakin saya sukai dan sesaat pun rasanya tak ingin terpisahkan. Terlebih ketika internet sudah bisa diakses secara bebas, niat untuk terus belajar semakin besar. Belajar otodidak di perpustakaan umum negara orang yang sudah canggih, turut menempa jiwa dan raga saya untuk semakin menguatkan diri menyukai dunia menulis dan membaca.

Pengalaman dan rintangan terus menempa saya hingga semesta memberikan kesempatan kepada saya untuk bertemu dengan orang baik dan diajak kerja sama menjadi kontributor media berbahasa Indonesia di negara penempatan HK, Taiwan, dan freelance liputan di media yang terbit dan beredar di Taiwan, HK dan Macau.

Nyicil Tulisan Dulu, Jadi Bloger Kemudian

Saat selesai kontrak sebagai buruh migran, saya diajak bergabung menjadi jurnalis biro Indonesia untuk sebuah media yang terbit dan beredar di Taiwan. Alhamdulillah lebih dari 10 tahun saya bergabung dengan dunia media yang tak jauh dari kegiatan menulis dan membaca, hingga saya mundur teratur karena harus mulai bisa fokus mengurus keluarga.

Jadi ibu rumah tangga tak serta merta memutuskan hobi dan kebiasaan saya dalam menulis dan membaca. Didukung dengan adanya internet masuk desa, kesempatan untuk tetap bisa menulis dan membaca semakin terbuka lebar. Blog jadi salah satu pilihan saya untuk terus bisa merealisasikan semua pemikiran  keinginan dan harapan.

Disamping jika diseriusi blog juga bisa menjadi sumber penghasilan, meski tak bisa diprediksi macam gajiannya orang yang berstatus karyawan.

Jadilah aktivitas ngeblog menjadi bagian dari kehidupan saya di samping menjalankan tugas dan kewajiban sebagai istri dan seorang ibu rumah tangga.

Blogger ibu rumah tangga, lama-lama julukan itu muncul dengan sendirinya disematkan orang-orang yang melihat saya asyik dengan dunia ngeblog alias dunia tulis menulis di dunia maya.

Seiring dengan perkembangan teknologi ngeblog tak hanya lagi berisi tulisan saja, melainkan juga ada tuntutan untuk dipercantik dengan foto dan video yang menunjang tulisan. Coba lihat kreativitas di shinbi house yang siapa tahu bisa menginspirasi.

Begitulah, pelan-pelan saya pun belajar dan terus belajar. Menyicil tulisan dari dulu, hingga akhirnya bisa jadi bloger saat ini.

Perkembangan yang tidak sebentar dari awal hingga sekarang. Satu yang harus kita garis bawahi jangan sepelekan proses dan progres sekecil apa pun itu karena hidup ini bukan sulap yang cukup bermodalkan mantra sim salabim…

Bukan mengecilkan semangat para blogger baru, karena jika diniatkan dengan benar, dijalankan dengan konsisten dan penuh tanggung jawab, banyak kok blogger pemula yang bisa sukses dan bertahan. Jadi semua tergantung pada kerja keras masing-masing ya …

34 thoughts on “Nyicil Tulisan Dulu, Jadi Bloger Kemudian”

  1. menjadi blogger tuh selain menyalurkan hobi dan aspirasi kita, sekaligus juga jadi ajang refreshing dan networking plus pastinya jadi salah satu pintu rejeki ya teh

    Reply
  2. Terharu juga aku baca tulisan ini. Ya, bisa dibilang orang mau menulis karena kecintaannya terhadap bacaaan. Aku juga beruntung banget dulu pas kecil banyak dijejalin majalah, komik dsb, yang cikal bakal bikin mikir, “ah mau nulis juga!”

    Dari nulis blog, artikel di majalah trus bikin buku! tinggal jaga konsistennya aja haha. Btw, salam takzim buat mamang penjual majalah bekas. Mudah2an beliau masih sehat. Atau jikapun udah berpulang, jasanya kerasa banget ya mbak.

    Reply
  3. Dunia sastra luar biasa ya teh, apalagi tiap kata-perkata menjadi begitu bermakna di dunia digital seperti sekarang ini. Dan yang lebih menyenangkannya dari menuliskan kata kita bisa dapat cuan

    Reply
  4. Baca tulisan Teh Okti bikin aku flashback ke masa-masa awal menjadi blogger. Waktu itu selain hobi nulis, juga untuk nyalurin hasrat ngomongin opini. Aku inget ada tetangga yang bilang kalau nulis di medsos itu bisa hilang, tapi kalau di blog insya Allah bakal abadi.

    Btw, makasih ya Teh udah ngingetin. Jadi sadar tahun baru udah dapet tiga hari, tapi masih belum ada tulisan baru di blog.

    Reply
  5. Menjadi blogger prosesnya panjang ya, teh. Kalau hanya bisa nulis ga bakal jadi blogger. Karena blogger kudu sabar nyiapkan blog dan publikasikan tulisan.

    Btw si Mamang baik banget tuh teh, minjemkam buku cerita yang bikin teh Okti makin nyaman membaca ketimbang pakai kertas bekas gorengan

    Reply
  6. Penting bgt suka membaca dan menulis jika ingin menjadi blogger. Karena jika tidak mahir hal ini, biasanya harapan kandas di tengah jalan.

    Bisa sih, diatasi dengan membuat team. Karena tidak semua aspek blogging bisa dikuasai semua, jika yang dicari adalah dunia profesional. Kalau bisanya di bidang teknis seperti SEO dan desain web, bisa perbanyak blog dan kerahkan jasa penulis yang sudah berpengalaman.

    Sebaliknya, bagi yang mahirnya di bidang menulis banyak bacaan juga, bisa bayar jasa SEO untuk mengatasi berbagai problem atau pengelolaan rutin..

    Reply
  7. Keren ya pengalaman menulis teh Okti.
    Di negeri orang pun teteup giat nulis bahkan jadi penulis di suatu forum.
    Saya juga suka nulis, tapi palingan nulis di diary aja dulu.

    Reply
  8. Wah menarik banget kisah dari Teh Okti dalam menjadi Blogger. Saya sih belum pernah ikutan lomba nulis mbak. Pernah waktu sekolah tapi ga menang-menang. Keep writing ya Teh Okti.

    Reply
  9. Menulis dan blogging adalah kegiatan favoritku. Bukan sekadar killing the time, tapi juga senam otak… Kreativitas dan skill menulis pun juga harus cukup. Yang paling menantang dalam dunia blogging adalah konsistensi. Padahal konsistensi itu adalah koentji…

    Reply
  10. keren judulnya Teh Okti

    saya juga memulai menulis karena suka membaca sejak kecil , apa pun saya baca, termasuk yang isinya berat sampai harus bolak balik dibaca

    gak nyangka sekarang dari hasi ngeblog bisa mendapat penghasilan

    Reply
  11. Aaak terharu banget baca ini, aku masih suka moody dalam update blog karena kesibukan kantor yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Padahal ada banyak ide dan hal yang pengen ditulis cuma kadang sudah kalah sama rasa capek. Terima kasih ya Mbak tulisan ini jadi penyemangat dan semoga di tahun 2024 ini aku lebih istiqomah

    Reply
  12. MashaAllah. Barokahnya jejak perjalanan Teh Okti untuk bisa mencapai tahapan ini. Tidak ada yang mudah untuk menggapai apa yang kita impikan. Tapi dengan semangat, konsistensi, dan perjuangan, apapun itu akan hadir sebagai sebuah pencapaian dalam hidup kita. Saya juga percaya bahwa mereka yang akhirnya menulis adalah mereka yang mencintai kegiatan membaca. Karena lewat aktivitas inilah, banyak diksi yang menjadi harta karun kemampuan seseorang untuk menulis.

    Keep going on The Okti. Tetaplah jadi penulis sepanjang hayat dikandung badan. Sebarkan legacy bahwa Teh Okti pernah menjadi bagian dari dunia literasi tanah air. Makasih juga karena dengan tulisan ini, saya jadi ikutan semangat untuk terus menulis yang inshaAllah jadi manfaat untuk orang banyak.

    Reply
  13. Wah bisa tos kita Teh Okti demen sama sastra. Tadinya waktu SMU pengen ambil jurusan sastra daku. Eaaa di sekolahku ndak ada jurusan itu, jadilah nyemplung ke IPA hihi

    Reply
  14. Salut untuk proses Teh Okti dari awal menggeluti dunia blogging, gak mudah tapi akhirnya memetik hasilnya dan bertahan ya.
    Aku nyemplu jadi blogger karena suka nyorat nyoret gak jelas di buku, ternyata memang tak mudah merunutkan apa yg ada di kepala dalam bentuk tulisan. Hingga sekarang masih PR banget agar tulisannya mengalir kayak bloger lain.

    Reply
  15. Maka ketika bikin blog, harus tau tujuan ngeblog itu apa ya, Teh…
    jadi ketika ada rasa untuk males atau berhenti ngeblog, kemudian kembali ke niat awal
    tujuan bikin blog itu untuk apa, ya…

    Tapi kalau memang passion udah nulis, mau apapun bawaannya ya nulis aja ya, teh…

    Reply
  16. Aku terfokus pada cerita masa kecil Teh Okti dulu. Mirip sama Asma Nadia dan HTR ya, Teh. Kertas bungkus gorengan, bungkus bawang, dan bungkus-bungkus lainnya dibaca tuntas. Ah, jadi miris sama anak-anak yang punya banyak akses untuk membaca buku tapi tak mau membaca.

    Semoga semangat Teh Okti menular pada banyak orang.

    Reply
  17. Iya sih. Menjadi seorang blogger memang nggak hanya harus bisa menulis saja. Karena pekerjaan blogger nggak hanya sekedar menyiapkan tulisan yang menghibur dan memberi manfaat kepada pembaca saja. Tapi juga gimana upaya kita agar pembaca betah untuk mengunjungi dan membaca apa yang kita sampaikan hingga kelar.

    Reply
  18. Kadangkala, memulai sebuah profesi apalagi blogger dan konten kreator atau apapun, bukan hanya masalah memilih, tapi juga masalah bertahan.
    Karena dimanapun kita memulai dari titik tertentu, tentu yang berhasil adalah yang konsisten dengan sebuah progress.

    Seneng banget membaca tulisan Teh Okti karena aku jadi belajar sebuah konsistensi dalam profesi.

    Reply
  19. Saya juga tergolong blogger baru yang baru tahun kemarun mulai beli domain dll . Benar2 perlu kerja keras ternyata menjadi blogger profesional karena harus konsisten. Intinya jangan pernah berhenti belajar ya mba karena untuk tetap bertahan di dunia blogger ini harus upgrade ilmu baru terus. Terimakasih insightnya mba

    Reply
  20. Kebayang amal baik mamang lapak buku dan majalah terus mengalir sampai teh Okti sesukses ini jadi blogger, membolehkan baca buku di sana. Aku juga jadi ngeblog iseng-iseng pengen menuangkan isi kepala dan hati, dari dulu juga suka nulis di buku tulis mirip diary, pernah juga punya sahabat pena dan tulis surat menyurat

    Reply
  21. Siapapun bisa menjadi Blogger yah, bisa menulis dan menuangkan isi hati dan ide cemerlang ke dalam tulisan, apalagi kalau yang hobi nulis diary hehehe, pasti bisa lah menjadi seorang blogger

    Reply
  22. Sahabat pena, duh jadi ingat jaman dulu nih, kirim-kiriman surat dan kartu pos dengan sahabat pena yang kontaknya diperoleh dari majalah.

    Emang bener, jadi blogger itu bukan hal instan. Bukan cuma sekedar menulis saja, tapi konsisten menulis dan juga membaca

    Reply
  23. sepakat banget sama Teh Okti, kalau semua blogger mau sukses atau nggak tergantung ke individu masing-masing. Karena saat ini banyak kok blogger pemula yang sukses. Jadi tetap semangat untuk kita para blogger

    Reply
  24. Awal mula jadi bloger versi saya adalah curhat unfaedah di blog blog gratisan. Berkat curhat tersebut ada yang dapat apresiasi, jadi pencerahan untuk orang lain, dan ada juga yang beroleh hadiah. Ahh yang penting happy nulisnya..

    Reply
  25. Aku juga sering ditanya gimana caranya jadi blogger, aku jawab yang penting seneng nulis dulu.
    Btw, bacaanku dulu juga majalah bekas, beli di pasar splindid hehe

    Reply
  26. Tos, kita sama-sama anak linguistik. Sama mbak, aku juga paling suka pelajaran bahasa apapun (Inggris, Jerman, Perancis, dsb) dan Puji Tuhan nilai-nilai pelajaran linguistik jadi penyeimbang nilai Fisika yang mengerikan hahaha. Bedanya, alih-alih sastra, aku masuk program studi Ilmu Komunikasi.

    Salut sama semangat membacanya, mbak. Bahkan sampai rela membaca sobekan kertas bekas.

    Reply
  27. Saya setuju, Teh … jadi blogger itu, agar bisa bertahan maka harus diniatkan dengan benar dan dijalankan dengan konsisten. Saya salut sama persistensi teh Okti untuk terus belajar hingga jadi seperti sekarang ini. Baarakallahu fiik, Teh.

    Reply
  28. Storynya Teh Okti, berasa banget. Jadi bloger memang tidak mudah, butuh banyak hal untuk terus berlanjut dan semangat. Konsisten berproses dan berprogres terus. Terima kasih untuk sharingnya Teh, jadi penyemangat.

    Reply
  29. Bener mbak jadi bloger professional nggak mudah seperti komentar netizen “enak ya nulis dapat uang” hmm belum tahu nyungsepnya, jungkir baliknya latihan nulis gak ada orang lihat.

    Sakjane blogger itu lebih sama kayak profesi yang ditekuni jadi gak asal instan aja.

    Reply

Leave a Comment