Pantai Pribadi Kekuasaan Fahmi

Pantai pribadi dikuasai Fahmi. Saking sepinya, nih anak main sendiri

Setelah drama kerewelan yang dilakukan Fahmi sebagai protesnya akan suasana tidak nyaman (maksudnya cuacanya terlalu panas) di lokasi wisata Ocean View Karang Potong Cianjur kami tanggapi dengan segera keluar dari lokasi wisata itu, akhirnya wajah cemberutnya bisa pudar dengan sendirinya. Mukanya kembali cerah dan sumringah.

“Ami gak kuat Bu, di sana panas. Makanya tidak sabar mau main air di pantai Jayanti saja,” alasannya ia kemukakan juga saat kami sedang perjalanan menuju Pantai Pelabuhan Jayanti sambil merasakan segarnya kesejukan semilir angin yang menerpa kulit wajah ketika menerobos keteduhan pepohonan di sepanjang jalan Sindangbarang-Cidaun yang cukup mulus.

Seperti sudah saya sampaikan di cerita kemarin, kalau karena terlalu panjang, cerita dan niat di awal mau main ke Pantai Pelabuhan Jayanti belum bisa dipublikasikan. Cerita bermain ke Pantai Pelabuhan Jayanti akhirnya dilanjutkan di sini ya…

Selain sifatnya pemalu, putra kami Fahmi memang tidak suka berada dalam suasana ramai dan kebisingan. Ia akan memilih main ke gunung, daripada jalan ke mall. Termasuk kalau dikasih pilihan mau ke gunung atau ke pantai, dipastikan ia akan memilih wisata ke gunung.

Namun bukan berarti ia anti pantai. Jika ia sudah nyaman dalam arti lokasinya tidak terlalu panas, tidak bising dan tidak banyak pengunjung, terbukti ia bisa berkali-kali datang ke pantai yang sama, dan selalu mengatakan gak sabar ingin bermain lagi ke sana. Ialah pantai Pelabuhan Jayanti, di Cidaun Cianjur Selatan yang berhasil menarik perhatian Fahmi. Seolah pantai ini pantai pribadi Fahmi, karena di sini ia merasa nyaman, dan sesuai dengan kepribadiannya.

Entah apa yang mereka obrolkan. Setengah jam lebih posisi dadapangan begitu gak beranjak juga. Saya yang nungguin sampai kesel jadinya, haha…

Sudah tidak terhitung berapa kali Fahmi dibawa main ke Pantai Pelabuhan Jayanti ini. Yang pasti sejak dibawa pertama kali ke pantai ini ia tidak rewel, tidak nangis, kami merasa anak ini betah, cocok dan menyukainya. Benar saja, karena setelah bisa mengemukakan pendapat, ia bilang sendiri kalau suka dan betah jika bermain di pantai Jayanti ini. Padahal di pantai lainnya, baik yang berada di Cianjur, maupun di daerah lain, ia selalu nangis, gelisah, gak mau lepas dari gendong. Mungkin kalau sudah agak besar seperti sekarang ia akan ngomong tidak nyaman, sebagaimana ia tidak ingin berlama-lama di Ocean View Karang Potong sebelumnya.

Ketika saya tanya kenapa suka main air di pantai Pelabuhan Jayanti? Jawaban Fahmi enteng saja: abisnya sepi, enak tidak banyak orang. Juga ada menaranya jadi bisa berteduh. Kalau lapar tinggal beli udang bakar.

Hemm… Ternyata itulah alasannya kenapa Fahmi selalu betah kalau bermain air di pantai Jayanti.

Adanya menara ini jadi daya tarik tersendiri untuk Fahmi. Ia betah ngiuhan (berteduh) di bawah/kolongnya

Ya seperti ia bilang, setiap kami datang ke pantai ini, mau hari kerja maupun hari libur kebetulan selalu sedang sepi pengunjung. Jadi pantai ini seolah pantai pribadi miliknya saja. Ia bisa bebas puas bermain bola dengan ombak, tanpa malu dilihat pengunjung lain. Padahal sekarang ini sebenarnya dimana-mana diberitakan lagi cuaca ekstrim ya…

Jika lelah ia akan mendatangi saya yang telah menggelar tikar di bawah menara pandang pelabuhan. Menara ini kemungkinan sudah tidak berfungsi karena untuk sampai di puncak harus memiliki alat khusus. Tangga untuk naik sudah rusak bahkan sekarang tidak ada. Sangat susah untuk sampai di atas kalau tidak memiliki tangga yang sempurna.

Kalau di Jember ada kafee kolong, di pelabuhan Jayanti Cianjur ada lesehan kolong🤪

 

Di bawah menara ini saya menggelar tikar dan menyimpan perbekalan. Kenapa memilih tempat di kolong menara, padahal di belakang menara berjejer bangunan berderet untuk istirahat. Ya semacam gazebo gitulah. Dulu hanya berupa saung bambu lima petak. Sekarang sudah dibangun dengan bata dan keramik. Hampir ada sepuluh petak. Alasannya tentu saja kalau di sana bayar, kalau di kolong menara ini gratis. Hehe…

Alasan lebih tepat karena lebih dekat saja. Jadi bisa memantau anak langsung juga kalau ada kebutuhan bisa dengan cepat melaksanakan.

Meski dari pagi sampai sore di bawah menara ini kita tetap teduh karena terlindungi dari sinar matahari.

Tiang menara yang penuh dengan coretan hasil tangan jahil

 

Saat anak dan ayahnya main bola bersama ombak, saya memilih tiduran atau berselancar karena sinyal cukup stabil. Kalau sudah mendekati waktu makan, saya segera menuju Kedai Ikan Bakar Uwa Utis di belakang menara untuk memesan ikan bakar kesukaan.

Sebenarnya bukan ikan sih yang kami pesan, melainkan cumi-cumi dan udang. Cumi-cumi untuk kami, sementara Fahmi memilih makan udang. Mungkin karena lelah dan haus, mereka selalu makan lahap. Padahal kalau di rumah masak udang, susah sekali mau menghabiskan makannya itu.

Di dekat kedai bakar ikan ada toilet umum dan terhalang dua kedai ke kanan ada mushola. Jadi lokasinya emang strategis ya. Setelah cukup lelah bermain air, bisa langsung mandi membersihkan diri lalu solat dan melakukan hal lain masih di sekitar menara juga.

Sekitar pukul tiga sore, atau saat anak dan suami sudah kelelahan bermain bersama ombak, kami membereskan bekal bersiap pulang.

Membeli ikan sebagai oleh-oleh pulang, biasanya kami lakukan sambil jalan pulang. Penjual ikan laut emang tidak banyak, tapi setidaknya sudah ada yang jual ikan rasanya senang banget.

Hanya karena perjalanan cukup jauh, jadi kalau beli ikan, meski udah dikasih es, tetap saja akan tercium bau anyir, bau khas ikan gitulah. Jadi siap-siap saja kalo bawa ikan saat pulang itu orang terdekat biasanya menutup hidung dan celingak-celinguk sambil ngedumel ini bau bangkai apa ya? Katanya…

Tentu saja tidak kami hiraukan. Terus melaju saja. Bukan disengaja pula kalau bau ikan menyeruak dan bikin heboh. Tujuan kami hanya ingin segera sampai rumah. Berbaring untuk meluruskan punggung dan pinggang, secara enam jam pulang pergi duduk di jok sepeda motor dengan kontur jalan buruk di kecamatan Pagelaran, Tanggeung, Cibinong dan sebagian Sindangbarang itu sesuatu banget…

Meski sampai rumah pada tepar, tapi saat ditanya masih mau main lagi ke Pantai Pelabuhan Jayanti? Jawabannya enteng banget, “ Iya mau…! Itu kan pantai Ami. Jadi Ami bebas main di sana.”

Kalau betah bermain,
disuruh gaya gokil mau saja

Haduh nih anak gak tahu apa masuk ke sana juga kan dua kali bayar. Karcis masuk Pemda sebesar tiga ribu per orang dan sepeda motor dua ribu. Ada lagi biaya parkir “pemuda setempat” untuk sepeda motor sebesar sepuluh ribu. Tuh, biaya parkirnya aja lebih mahal dari biaya parkir di Karang Potong dong ya…

 

17 thoughts on “Pantai Pribadi Kekuasaan Fahmi”

  1. Karang potong ini lagi hits ya maak, dan saya sudah beberapa kali wa menanyakan penginapan ternyata masih proses penginapan yg menyatu dengan tempat hits karangpotongnya.

    Reply
  2. Jadi ingat anak-anak udah lama sekali tak bermain di pantai. Senang juga kalau anak main di pantai dan bebas juga tanpa ada gangguan ya teteh Okti. Hayuk Fahmi main lagi disana karna beneran deh itu pantainya Fahmi 🙂

    Reply
  3. Fahmi sudah bisa menentukan sendiri yaa mau ke pantai mana. Tante suka sama pilihan Fahmi ini, karena memang main di pantai yg sepi itu asyik banget. Kita puas rasanya ya, Fahmi?

    Titip ketjup buat Fahmi ya, Teh.

    Reply
  4. Fahmi ni kqya aku tipenya mbak kalo di tengah2 keramaian malah ga nyaman kadang aku malah kaya panik gtu. Jd emang cocok sama area terbuka yg sepi laya pangai. Toss ah sama fahmi

    Reply
  5. Namanya Pantai Pelabuhan Jayanti, apakah dulunya diperuntukkan untuk pelabuhan, teh?
    Sekarang sudah gak dipakai sebagai pelabuhan lagi, mungkin yaa..

    Luar biasa Fahmi.
    Anak-anak yang dekat dengan alam ini biasanya anaknya kreatif dan tangguh, gak mudah goyah kalau punya pendapat.

    Reply
  6. Senengnya fahmi punya pantai pribadi, pantai Pelabuhan jayanti. Sepi gini jadi bebas berekspesi ya, apalagi buat anak pemalu. Pasti bakalan merasa lebih nyaman jauh dari keramaian

    Reply
  7. Baca judulnya, pikiran saya langsung traveling, “wah pasti si Fahmi ini anak sultan, lah wong anaknya penguasa pantai gitu loh.” Ternyata emang iya, penguasa pantai. By the way, soal berteduh di bawah menara, saya juga suka. Soalnya di situ sejuk dan kalau hujan, kita bisa terlindungi.
    Kebayang senangnya Fahmi bebas bermain di pantai serasa milik pribadi ya Nak.

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics