Rahasia Di Balik Meja Penulis Dunia

Rahasia di Balik Meja Penulis Dunia

 

Kalau ditanya seberapa penting punya planer tools untuk menunjang kerja? Jawabannya mungkin relatif ya. Tapi saya mau bongkar rahasia di balik meja kerja saya. Apa aja yang bisa saya lakukan dengan tools itu?

Biasanya penulis identik dengan alat tulis. Jaman dulu, kalau suka menulis kejadian sehari-hari alias curhat pasti punya buku diary. Orang bekerja yang pekerjaannya berkutat dengan tulisan pasti harus bisa menggunakan mesin tik.

Kini jaman sudah berubah, semua sudah dipermudah dengan kemajuan teknologi. Apapun pekerjanya, kaitannya dengan tulisan ataupun gambar bahkan perhitungan sampai strategi, semua ditampung dalam satu alat yang dinamai komputernya jinjing alias laptop. Semua data kita simpan di sana. Mengolahnya, sampai menjadi alat bantu dalam menyelesaikan urusan pekerjaan kita.

Laptop kini menjadi alat yang digunakan sejuta umat. Eh bahkan milyaran umat kali ya. Apapun pekerjanya laptop selalu siap sedia.

Saya ada laptop, tapi justru tidak saya pakai. Meski pekerjaan saya selalu berkaitan dengan tulis menulis, tetapi saya lebih merasa nyaman mengerjakan semua itu dengan handphone. Mungkin karena sudah terbiasa kali ya. Secara saya menulis menggunakan alat bantu hp sejak sekitar tahun 2010.

Oya, ini salah satu tulisan yang saya buat dari hp, dikirim dan berhasil jadi juara (tapi lupa juara berapa) serta tulisannya dibukukan. Entah antologi yang ke berapa, lupa juga hehee.

Modal Jempol Jadi Penulis Dunia

Pengarang dengan hanya menggunakan satu jempol dalam membuat naskah, pernah dengar siapa orangnya? Dialah aku. Katakanlah siapa, jika ada yang lainnya di dunia ini.

Bukan magic, mimpi atau sulap, atau gaya bahasa yang memperindah kalimat. Ini nyata. Realita dari keterbatasan dan kekuranganku.

Sejak kecil Tuhan menganugrahiku gemar menulis dan membaca, tapi keinginanku jadi penulis kandas karena kendala biaya. Kemelaratan menyeretku menjadi buruh migran di Taiwan. Harusnya, dengan fasilitas canggih dan kemodernan teknologi Taiwan memudahkan jalanku menggapai cita. Harusnya, tapi buktinya tidak.

Membeli laptop kuanggap bisa menunjang kemudahan dalam mengarungi dunia kepenulisan. Tapi masalah justru bertambah. Internet yang biasanya always on, tiba-tiba dimatikan atasan. Membuatku kelabakan teringat begitu banyaknya proyek kepenulisan yang terancam terbengkalai.

Langganan internet sendiri jelas gak bisa mengingat dokumenku yang menjadi syarat membuka koneksi internet di Taiwan ditahan atasan. Atasan juga meroling job dengan tempat yang berjauhan, otomatis waktu senggangku makin tipis dan tak ada kesempatan membawa laptop. Sepertinya keinginan belajar dan mengasah ilmu untuk bermimpi jadi penulis gagal sudah.

Putus asa? Tentu tidak! Sejak kecil terbiasa susah, kuanggap kesulitan itu sebuah game. Untuk menjadi pemenang aku harus terus berjuang.

Mengandalkan wifi gratisan yang sering hilang jika cuaca buruk aku terus menulis. Ponsel jadul yang joysticknya eror menjadi pilihanku untuk bisa terus menulis saat di kamar mandi, kendaraan umum, dan waktu istirahat kerja. Tak terhitung berapa kali jempolku lebam dan bengkak karena nonstop menekan keypad mengetikkan ribuan lembar naskah.
Ketiadaan internet dan waktu khusus tidak membuatku berhenti menulis. Meski dengan berdarah-darah aku terus menulis dan menulis demi menggapai cita-cita jadi penulis dunia.

Jika aku yang serba kekurangan masih memaksakan menulis, lalu alasan apalagi untukmu masih ogah-ogahan melakukannya? Bukankah kebebasan dan fasilitasmu lebih lengkap dibandingku. Tidakkah apa yang aku alami ini menginspirasimu untuk segera menulis selagi bisa sekarang juga?

 

Jangan kira tulisan itu dibuat dengan bantuan smartphone seperti saat ini. Hei, tahun 2010 belum ada android. Saat itu saya pakai hape sejuta umat Nokia tipe N73. Kalau saja hp itu tidak hilang, mungkin saya masih bisa menulis dari sana.

Sekarang sih menyesuaikan dengan kebutuhan, alhamdulillah melalui lomba menulis, saya mendapatkan smartphone yang bisa menunjang semua pekerjaan saya.

Comments

  1. wah keren teh okti
    saya tahu nama teh okti dari bukunya Kang pepih yang Etalase Warga Biasa itu
    iya memang jadi penulis modal jempol tapi dahsyatnya luar biasa
    apalagi jika tulisan kita banyak menginspirasi orang ya teh

  2. Misdar murni says

    Woow, saya penasaran juga pengen nyobanya agar nggak selalu rebutan laptop sama anak.

  3. Wah,sama mbak. Kemarin aku dapat rezeki menang lomba, aku beliin handphone juga. Soalnya hp lama saya sudah rada ngehenk

  4. Keren mbak, aku juga ngeblog pake smartphone nih, makanya kadang typo hehe
    Aku baru ngeblog 5 bulan ini, dah tua ya baru kejebur hehe . Lomba pernah ikut 2 kali, tp ga menang. Kayaknya harus banyak blajar nulis n konsisten nulis di blog 1 mggu sekali hehe
    Tq mbak, inspiring

  5. MasyaAllah teh.. luar biasa pisan..
    Saya gak kebayang kalo teteh sampe kena carpal sindrom. Saya aja dulu ngetik di tablet sambil nyusui rasanya pegel amat….
    Tapi kemudian sama kayak teteh.. saya dapet smartphone pengganti buat tablet Samsung lama itu.

    Padahal itu tablet juga opsi karena smartphone sebelumnya pecah screennya.

    Memang kalau berjuang, rasanya menyenangkan ya teh..

  6. Bener teh smartphone bisa digunakan untuk nulis, kemaren aku dan rekan blogger lainnya ada lomba on the spot di acara Blibli, lebih mudah.

  7. Keren banget Teh perjuangannya. Kadang serba mudah malah jadi lebih malas ya hiks, saya jadi tertampar Teh. Harus lebih semangat belajar menulisnya. Tahun ini pengen ikutan banyak lomba biar belajar berkompetisi dan menulis yang menarik. Makasih Teh atas sharingnya, aku jafi semangat lagi nih

  8. Teteh keren! Saya punya banyak teman BMI di Singapura dan Hongkong. Tapi kesempatan untuk belajar dan berkarya sepertinya lebih terbuka di Hongkong, ya.

    Kalau menulis aku selalu mengandalkan laptop. Bisa sih menulis di ponsel, tapi penglihatanku rasanya terganggu. Sebentar nggak papa. Kalau lama, wah, perutku limbung. Rasanya seperti naik kendaraan berkecepatan tinggi yang menuju jalanan menurun. Rada aneh, tapi memang begitu, hahaha …

    Apapun itu, niat menulis harus terus diupayakan ya, Teh. Ada laptop kalau niatnya setengah-setengah, ya nggak akan jadi juga.

  9. Keren pisan teh
    Ala bisa karena biasa harus ditambah dengan kemauan kuat
    Tanpa kemauan kuat kerjaan seabrek juga ngeles weh

  10. Kesulitan diibaratkan kayak main game. Oke teh, fokus solusi aja ya.. Pengalaman menulis yang saya ingat bgt justru setelah jadi ibu. Karena belum punya laptop saya harus ke warnet. Nunggu anak tidur dulu. Udah sampai kan, ehh baru juga duduk suamiku telpon dan minta aku pulang karena anak nangis nyariin ibunya. Ga mau sama bapaknya, pokonya ibu

  11. Saya blm terbiasa teh nulis dari HP, biasanya lebih lancar kalau dari laptop tp masih mencoba terus nh via hp… Sukses terus ya buat teh okti

  12. Alhamdulillah ya mbak 🙂 Meskipun pakai beberapa media dan gadget untuk menulis, kalau memang dasarnya hobi dan passionnya menulis, pasti akan dilakukan 😀

  13. Meilia Wuryantati says

    Keren banget teh.. aku juga nulis pakai HP , karena bisa sambil rebahan. Entahlah nyaman aja gitu. Sukses terus yah buat teteh

  14. alhamdulillahs elalu ada jalannya ya teh. Aku dulu pake tab tapi kameranya gak bagus jd suka riweh bawa dua hp, akhirnya ganti ke smartphone deh dan yah gitu terjalani aja mneulis dari hp hehe

  15. Alhamdulillah ..kerennya dirimu..aku tuh gak bisa nulis di hape kecuali kepepet banget… Sekarang semua libur rebutan laptop deh.. Mau nulis pake hape hapenya sudah sering error malah loncat2 nulisnya hehe…

  16. keren banget mbak okti bisa dapat smartphone melalui lomba, aku udah banyak ikut lomba tapi nggak pernah dapat smartphone, mlah sering kalah

Speak Your Mind

*

%d bloggers like this: