Tradisi Lebaran di Kampung

Tradisi Lebaran di Kampung

Kampung jaman sekarang sudah jauh berbeda dibanding jaman sebelum ada internet masuk desa. Meski namanya kampung setelah teknologi sampai di pelosoknya tradisi serta adat istiadat setempat yang awalnya sangat dilestarikan dan dijaga perlahan memudar dan bahkan ada yang hilang tergerus jaman.

Ketika memasuki sepertiga terkahir bulan Ramadhan, tradisi di kampung saya yang masih bisa kita saksikan sebagian di antaranya:

Bersih-bersih rumah

Setiap mau lebaran masyarakat giat beberesih. Halaman dirawat, rumah diganti cat, kaca dilap sampai mengkilap. Saat ini meski sebagian sudah menggunakan jasa kebersihan tapi sebagian tetap melakukan tradisi bebersih rumah ini.

Ketupat

Kakau ini tradisi yang sudah menasionalis, ya? Hampir semua tempat di tanah air kita bahkan sampai ke luar negeri pula memiliki kesamaan hari lebaran dirayakan dengan makan ketupat. Proses pembuatan ketupat yang unik tidak jarang jadi tontonan anak. Tapi sekarang orang yang bisa membuat cangkang ketupat sudah semakin jarang. Anak muda mulai enggan belajar menganyam dan kalah oleh yang namanya gengsi. Padahal membuat cangkang ketupat itu juga sebuah keahlian. Kalau sudah bisa tidak akan berat membawanya. Malah justru banyak manfaatnya.

Kue kering

Kalau di kampung tradisi bikin kue kering itu bukan kue sejenis nastar, puteri salju, kastangel dan atau keju, melainkan opak, kerewel alias kembang goyang, rengginang dan olahan sejenis lainnya. Membuatnya masih bekerja sama, satu sama lain saling membantu. Seru dan kompak. Sayang tradisi itu kini mulai hilang ditelan rasa kesibukan serta ego masing-masing yang kian hari kian tinggi.

Saling kirim makanan

Mengirim makanan menggunakan rantang masih bisa ditemui di kampung saya. Meski sebagian tantangnya sudah rantang modern yang harganya sampai setengah juta itu.

Makanan yang dikirimkan mayoritas hampir sama menunya seolah makanan tinggal ditukar-tukar saja. Menu dalam rantang bagaikan berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya.

Nyekar

Berziarah ke makam keluarga dan kerabat masih banyak ditemui baik di desa maupun di kota. Tidak heran kalau areal makam bisa jadi ladang usaha dadakan saat masa mudik lebaran.

Ngaliwet

Tradisi ini paling seru dan enak. Selagi bulan Syawal, apa pun kegiatannya, ujungnya mah pasti makan-makan. Nah tradisi di kampung makan nasi liwet memiliki sensasi serta kenikmatan yang sangat jauh beda. Saat lebaran banyak ditemukan di setiap rumah pasti memiliki menu daging dan olahan berbahan santan, tapi ngaliwet dengan ikan asin plus lalap sambal itu tetap nikmatnya tidak bisa tergantikan.

Di tempat saya meski lebaran ngaliwet tetap tidak atau belum pernah tergantikan. Kecuali orang sudah tidak lagi doyan makan kali ya hehehe…

 

Masih banyak tradisi lebaran di kampung saya yang bisa digali kembali. Sayangnya kecanggihan teknologi sedikit banyak sudah membawa dampak terhadap itu semua. Tradisi di kampung yang mulai mengota ini perlahan tapi pasti suatu saat akan hilang dari peradaban muka bumi.

22 thoughts on “Tradisi Lebaran di Kampung”

  1. Aku juga gitu mba, beberes rumah, memasak, dan saling berbagi makanan ke saudara dan tetangga hehehe tapi kalau nyekar dan ngeliwet aku belum pernah coba.. tapi ngeliwet seru juga ya seperti nya

    Reply
  2. Kalau tradisi membuat cangkang ketupat di keluarga besar saya sudah lama sekali menghilang sejak kakek wafat. Dulu yang bisa bikin cangkang memang cuma 3 orang yaitu kakek, om, dan saya. Yang lainnya diajarin gak bisa-bisa. Setelah kakek wafat, tradisi membuat cangkang otomatis hilang

    Reply
  3. Kalau di kampung kulit ketupatnya bikin sendiri ya, sampe skr aku gak bisa2 bikinnya padahal udah diajarin, Yang biasa bikin bapakku di rumah

    Reply
  4. Tradisi yang disebut Teh Okti masih ada di kampung saya, cuma memang seakan berkurang.
    Modernitas atau sifat individualis lebih dominan untuk menggerus gotong royong dan kebersamaan.
    Kalau saya tidak mengadakan rantangan karena keterbatasan anggaran jadinya tidak pernah kirim-kirim. Lagian keluarga kecil ini makan saja seadanya.
    Kalau ngeliwet masih, kok. Itu mengeratkan hubungan dengan tetangga atau sahabat.

    Reply
  5. Kalau di tempatku sungkeman sama keluarga Teh. Trus habis itu muter ke rumah satu-satu. Tapi karena orangtua udah sepuh, jadi yang muter cuma anak2nya aja. Lebaran di kampung ternyata tradisinya beda-beda yaa :))

    Reply
  6. Dulu biasa saling hantar makanan dengan tetangga. Ibuku biasanya masak lebih banyak untuk dikirimkan ke tetangga yang non muslim. Biar mereka ikutan juga merasakan lebaran, gitu kata beliau πŸ˜‰

    Reply
  7. Kalau tradisi ketupat dan kue kering masih ada di daerah saya sampai sekarang, Teh. Yang udah gak ada itu tradisi saling kirim makanan. Dulu waktu saya masih kecil, ibu dan para tetangga suka bertukar makanan dengan menggunakan rantang. Namun setelah pindah ke lingkungan baru, tradisi saling mengirim makanan sudah tidak ada lagi.

    Reply
  8. duh, eta ngaliwet hehe… edisi pulang kampung memang ngaliwet yang dituju, apalagi kalau lauknya ikan kecil-kecil hasil nyetrum di sungai

    Reply
  9. Wah asyik banget kalau ingat suasana pakirim kirim zaman aku kecil. Seneng banget krn udahnya dpt uang buruh lelah ngirim2 ke tetangga. Sayangnya tradisi ini sdh lama hilang padahal.asyik yak..

    Reply
  10. Oh iya teh…bikin kue keringnya barengan?
    Kompak banget yaa…urang Sunda.

    Kalau di Surabaya, kayanya aku belum pernah ketemu kebiasaan bikin kue kering bareng.
    Tapi kalau saling kirim makanan, iyaaa banget..
    Assiikk~
    Mendadak panen makanan.

    Reply
  11. Kurang lebih sama dengan di Jakarta juga ya mba. Kalau ngaliwet jarang ya. Tapi seringnya malah dilakukan di hari2 bukan hari raya hehehe.

    Reply
  12. iya yang aku masih ras akental tradisinya di kampung itu
    saling kirimin makanan yang udah masak pas malam takbiran
    rame banget bolak balik rumah ke rumah tetangga so sweet ya

    Reply

Leave a Comment

%d bloggers like this: