Alasan Wanita Karier Tetap Bisa Hidup Waras Meski Tinggal di Pelosok Desa

Alasan Wanita Karier Tetap Bisa Hidup Waras Meski Tinggal di Pelosok Desa

Jadi ibu rumah tangga itu kurang-kurangnya bisa memanage keadaan, bisa stres dan merusak diri. Banyak kan berita ibu mencelakai anak, hanya karena gak kuat menerima omongan dari suami dan keluarganya.

Seorang ibu rumah tangga juga manusia, punya keinginan, waktu untuk memanjakan diri, bahkan kesempatan untuk menarik nafas segar, tanpa dibuntuti rengek anak atau masalah rumah tangga.

Hanya sedikit bagian ibu rumah tangga yang memiliki kontrol emosi. Sisanya tidak bisa menahan, sebagian besar hanya bisa dipendam. Yang dipendam bukan berarti tidak mengancam, karena jika sewaktu-waktu meledak, dampaknya justru bisa lebih parah. Jangan sepelekan kaum emak berdaster…

Masalahnya tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan oleh ibu rumah tangga –sekaligus– tidak menggangu waktu keluarga, dan pekerjaan rumah tangga yang seabrek-abrek setiap harinya. Mau senam harus ke luar rumah. Mau arisan apalagi, perlu dandan dan setidaknya ganti baju setiap kesempatan. Mau perawatan, di Cianjur Selatan mana ada tempatnya? Lagian butuh biaya. Sayang uang mending buat beli beras saja kalau pun ada.

Lah terus kegiatan apa yang bisa mewaraskan diri tanpa banyak diikuti kendala bagi ibu rumah tangga? Yes, ngeblog lah salah satunya.

Ngeblog jadi salah satu me time pribadi. Waktunya bisa kapan saja, mau nulis apa saja, bisa ketemu siapa saja, bahkan hasilnya tidak dikira, selain dapat ilmu, teman, juga dapat barang dan uang. Ibu rumah tangga mana yang tidak senang?

 

Modalnya, juga tidak susah. Cukup niat, kemauaan smartphone saja yang koneksi dengan internet. Kuota untuk ngeblog pun saya rasa tidak terlalu besar. Setiap bulan saya cukup tidak cukup tetap dicukup-cukupkan tidak lebih dari empat puluh ribu rupiah.

Kalau tidak bisa menggunakan smartphone ya pergunakan komputer. Fleksibel sebagaimana nyamannya saja. Kalau tidak punya komputer, duh ya jangan maruk dong, Jeng. Manfaatkan apa yang ada saja. Jangan bilang ga bisa kalau tidak(belum) belajar. Lagian ya tahu kondisi juga gitu loh…

Dari ngeblog tetangga suka tanya teteh kemana saja tidak terlihat? Mau bilang ngeblog, mereka gak akan paham betul. Mau bilang kerja freelance sebagai content writer, apalagi mana ngerti. “Ada saja di rumah pegang hape.” Dan jawaban itu akhirnya bikin tetangga keluar nyinyirannya. Hihihi…

Bukan sok pinter, tetapi namanya di kampung, jangankan rajin menulis dan membaca, aktivitas sehari-hari saja sudah banyak dikeluhkan. Bukan merasa sok melek informasi dan teknologi, karena sesungguhnya saya pun masih gaptek, tapi di kampung, senangnya menyikapi suatu hal itu hanya selintas dan musiman.

Padahal kalau dibilang kaya, orang kampung tidak kalah kaya. Malah mereka memang kaya-kaya dengan segala kekayaan sawah dan kebunnya. Kalau dibilang canggih, gadget mereka bisa lebih canggih. Anak atau orang tua yang merantau ke luar negeri dengan mudah bisa mendapatkan barang elektronik yang berkualitas dan kekinian.

Cuma untuk keuletan dalam mendalami sebuah bidang, termasuk ngeblog, masih banyak yang bermalas-malasan. Ketika ada acara sosialisasi internet di desa, seperti yang serius bertanya terkait ngeblog, ngevlog, cara mendapatkan uang dari Internet, dan sebagainya. Tapi itu sesaat saja. Setelah bubar dari balai desa, lupa dengan bahasan yang sudah dibedah dan dipertanyakan.

Teu ari ( gak sempat), bingung mau nulis apa, ga bisa, jadi alasan kuat mereka. Gak malu ketika melihat orang yang berhasil, timbul rasa iri, nyinyir dan gak terima kalau diri merasa kalah karena tidak mampu.

 

Ketika banyak paketan datang ke rumah untuk direview, pas anak tetangga –yang Facebooknya berteman dengan saya– melihat kalau saya menang lomba dan dapat hadiah, juga pada saat saya share reportase sedang di tempat lain karena ikut event bersama anak dan suami, baru tetangga bertanya lagi: kok bisa seperti itu? Gimana caranya? Langsung mingkem ketika saya jawab (lagi) “Ya hasil dari megang hape…”

Sesungguhnya ada banyak manfaat dari ngeblog yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata di blog ini namun terukir indah di dalam hati saya. Cukup dunia tahu kalau saya bisa waras jadi wanita karier yang tinggal di pelosok desa, salah satunya karena kegiatan ngeblog.

Comments

  1. Jangankan di desa teh, aku yg hidup di kota kadang tetangga juga heran.
    Kok bisa dapat banyak barang buat di review…
    Hehe

  2. Era digital ini memungkinkan SIAPA SAJA mendulang rezeki ya Teh.
    Mau tinggal di mana aja, yg penting mau usaha 🙂

  3. Dalam banget nih kata “waras” nya teh hehe. Oiya ngomongin tetangga, sama teh kalo pegang hape tuh terkesannya “gak ada kerjaan” padahal justru kita lagi kerja hehe

  4. Ketawa ketawa sendiri bacanya. Aku tahu banget situasi seperti ini. Entah mungkin masyarakat kita yang kurang open minded, atau memang dari sononya mengalir jiwa nyinyir Padahal bener sih kata teh Okti, orang di desa tuh balaleunghar, buat punya smartphone buat nge-blog mah pasti bisa.

  5. Jangankan di kampung teh
    Di kota juga banyak yang ngga tau
    Biasanya saya bilang saya nulis untuk Kompasiana
    Rada nyambung ka Kompas tah pan
    Trus saya terangin lagi, tapi bukan kompasnya
    Emang riweuh sih

  6. Karena fitrah perempuan harus mengeluarkan 25rb kata perhari, maka ngeblog adalah saranan paling tepat untuk mengalurkannya, hahahaha
    Sebab, kalau gak nanti nyinyir off line dan online.

  7. Ya, jadi wanita kudu bisa apa saja. Sangat disayangkan ya kalau ibu-ibu atau emak-emak hanya menghabiskan waktu dengan gosip antar tetangga hehe. Ngeblog donk makanya

  8. Hehehe I feel you teh, walaupun belum berkeluarga, jujur saja aku yang selama ini kerjanya mainan hape terus jarang keluar kamar apalagi keluar rumah ini memilih ngeblog biar tetap waras. Dan lumayan sedikit demi sedikit menghasilkan bisa buat jajan sendiri dan kadang sering didatengi tukang paket suka dinyinyirin juga sih sama beberapa orang. Disangkanya menghambur-hamburkan uang belanja mulu. Padahal sebagian besar paket reviewan dan hasil ngekuis. Kadang juga kalau lagi keliatan moto produk buat direview dinyinyirin juga : apaan sih yang begituan aja difotoin. *maaf numpang curhat.

  9. Saya hidup di lngkungan yang kurang ngeuh gitu sama dunia literasi. Kalau pas ada tetangga main dan saya lagi pegang hp dikiranya ya main hp terus. Padahal seringnya saya menyempatkan diri untuk menulis ketika anak tidur. Toh, yang penting pekerjaan rumah beres biar gak lelah amat. Hehe.

    Kalau ada paket datang juga dikira aku beli-beli terus. Padahal mah menang giveaway. Wkwkwk.

  10. Barokallah ya Teh. Tos kita, aku juga tetep waras dengan ngeblog di desa pelosok suami wkwkkw anak kota yang harus tinggal di desa belajar banyak di desa. Banyak hikmah juga yang saya ambil Teh

Leave a Reply to NurulRahma Cancel reply

*

%d bloggers like this: