Sepuluh tahun menikah puasa di rumah saja

Hari ini lima April tepat sepuluh tahun usia pernikahan kami. Kami menikah di KUA Sukanagara Cianjur pada tanggal 5 April 2012. Alhamdulillah kami sudah dikaruniai seorang putra bernama Fahmi, yang tanggal 3 Maret lalu berusia 9 Tahun. Sepuluh tahun menikah, suka duka pasti ada. Bahkan sampai sekarang sifat egois dan ingin menang sendiri masih merajai. Tidak heran kalau anak kami “ketularan” watak dari kebiasaan ibu dan bapaknya ini. Sepuluh tahun menikah, telah melewati sepuluh kali Ramadan. Ramadan tahun pertama menikah {Read More}

Belajar dari Jargon Iklan Minuman

Puasa hari ke dua, sekitar jam sebelas Fahmi putra saya udah mulai merengek. Saya mengerti ia pasti udah merasakan lapar atau haus. Segera saya ajak ia bermain dan ngobrol. Tapi lagi-lagi ia membelokkan obrolan ke makanan dan minuman. Hem… Saya jadi terpancing ngobrolin minuman juga jadinya. Kebetulan ingat ada tugas bercerita tentang iklan jadul yang menginspirasi. Ya meski mungkin aslinya tidak menginspirasi tapi tetap saya ceritakan kepada anak. Eh ternyata ia malah antusias! Jadi saya cerita jaman saya SD (seusia {Read More}

Kuliner Jadul Surabi

“Yah, habis. Gak kebagian Mak?” Air mata udah menggenang dengan sendirinya. Salah siapa dibangunkan untuk solat subuh malah lelet. Eh kesiangan beneran jadinya kue surabinya gak kebagian. “Ada nih Emak sisihkan. Emak tadi tanya ke adikmu, katanya si teteh mah masih di rumah. Ntar ke sininya siang. Ya udah Emak simpankan saja sebelum kehabisan. Makanya besok lagi kalau dibangunkan jangan kebluk. Malu atuh parawan kalah bangun pagi sama ayam…” Malu tapi cuek saja. Segera menghabiskan kue surabi (orang secara umum mengenalnya {Read More}

Kulangitkan Terimakasih Atas Kepekaan dan Rasa Hormat si Anak Muda

  Saat hamil mengandung Fahmi, begitu banyak suka duka yang saya alami. Maklum saat itu saya masih jadi ibu bekerja. Sampai masa cuti hamil tiba, saya masih bolak-balik Cianjur – Jakarta. Bahkan pernah melakukan perjalanan ke Semarang, Malang dan Nusa Tenggara. Selama suka wara-wiri itu usia kandungan hingga enam bulan perut belum terlihat begitu buncit. Apalagi setiap bepergian saya selalu menggunakan jaket big size. Seringkali bikin saya merasa was-was sendiri jika berdesakan di kerumunan. Saat itu kan masih belum ada {Read More}

Meja Makan dan Inner Child

Kalau makan di Alam Sunda, apapun lauknya saya akan lebih merasa nikmat jika makan dengan lauk hati ampela ayam ditemani rebung atau sayuran lain. Termasuk ketika berada di luar negeri saat bekerja jadi TKI. Berjodoh karena di negara tempat saya bekerja, hati ampela dan rebung selalu ada, malah dalam kualitas terbaik. Padahal cara masak dan penyajiannya tidak ribet. Asal matang saja saya sudah merasa tergugah selera. Jadi cukup direbus, dibakar atau digoreng dan saat dihidangkan tidak lupa taburkan sedikit garam. {Read More}

Tontonan Berdaya Cipta Saat Diputus Hubungan Kerja

  Kemarin siang seperti yang sudah saya curhatkan disini kalau saya kena PHK. Tentu saja sampai saat ini tidak bisa dibohongi (meski keukeuh ngaku baik-baik saja) saya masih merasa gagal dan terpuruk dalam hidup. Tapi buat apa dipikirkan, toh kehidupan tetap harus berlanjut. Saya hanya butuh waktu untuk bisa menerima dan menyadari semua ini hingga saya terbiasa. Untuk mempercepat “kesembuhan” itu, saya memerlukan suntikan energi positif baik dari dalam diri saya, keluarga, bahkan lingkungan. Kegiatan yang bikin mood makin lebih {Read More}

%d bloggers like this: