Di Balik Suasana 5 Tempat Menyulam Rasa yang Melahirkan Cerita

Jika diminta menceritakan 5 tempat berkesan yang sering menginspirasi, yang memacu produktivitas karena vibes nya, yang memberikan amunisi dalam charging energi, maka dengan mudah saya bisa menyebutkannya.

Bahkan sebenarnya lebih dari lima lokasi karena tempat berkesan itu memang lebih dari sekadar ruang, tapi juga jadi wadah energi, kenangan, dan inspirasi. Dan itu begitu banyak, tidak terhingga.

Kalau bicara tentang tempat berkesan yang sering jadi sumber inspirasi, biasanya bukan sekadar lokasi fisik, tapi juga suasana, kenangan, dan energi yang melekat di sana.

Berikut 5 tempat yang sering memunculkan ide-ide kreatif dan rasa hangat buat saya:

Tempat inspirasi sunset di gunung

Pegunungan di sore hari

Sejak pertama kali mendaki gunung saya dan team selalu memilih mendaki di musim panas. Bukan menantang kulit supaya gosong, melainkan memilih suasana supaya menemukan sore hari yang cerah dan bisa menangkap momen matahari tenggelam. Ketika bisa melihat langsung matahari tenggelam itu sangat luar biasa banget rasanya.

Matahari tenggelam dan bayang pepohonan yang kian memanjang, berulang seperti ritme kehidupan. Adalah inspirasi terbesar saya supaya berpikir, sesukses apapun, sekuat apapun, sebagai manusia kita tetap suatu saat akan pulang ke pangkuan Nya alias mati.

Selain itu saat cahaya jingga keemasan memberi nuansa reflektif, adalah waktu yang cocok buat saya untuk menulis artikel atau merenung.

Rasanya begitu damai, lupa sedih lupa susah, lupa utang untuk sesaat ketika di ketinggian yang tidak semua orang bisa menginjakkan kaki di sana, bisa merasakan semilir angin sore pegunungan yang membawa rasa kebebasan. Suasana seperti itu seakan membuka ruang ide tanpa batas.

Keesokan paginya, setelah subuh segera hirup aroma tanah basah dan tetesan embun pada dedaunan segar yang menenangkan pikiran. Rasakan bagaimana seolah paru-paru bisa dicuci bersih hingga tak lagi bernoda.

Jika beruntung bisa mendengar suara burung yang sangat ceria, ditambah desahan gemerisik daun jadi latar alami untuk melahirkan berbagai inspirasi.

Buat saya yang lahir, tumbuh dan besar di alam pedesaan, suasana alami seperti itu terasa cocok untuk melahirkan ide-ide tentang kreasi keberlanjutan, kehidupan yang produktif, dan harmoni dalam karya.

Bangunan Almamater Sekolah

Tempat berkesan yang sering jadi sumber inspirasi selanjutnya adalah bangunan sekolah baik waktu SD, maupun sekolah lanjutan tingkat atasnya.

Dulu sebelum berumah tangga, setiap ke Bandung saya selalu mampir ke Maleer di daerah Binong (Jalan Gatot Soebroto) untuk main dan melihat sekolah dasar tempat saya pertama kali belajar menulis dan membaca.

Ada beberapa orang teman yang rumahnya masih di sekitar Gumuruh, janjian main ke sana dan kami bernostalgia mengenang masa saat jadi bocil dulu.

Tertawa, bercerita, membahas kelucuan jaman dulu, semua itu menjadi momen yang direka ulang dan tidak akan terlupakan. Recharge kenangan yang kelak saya jadikan tabungan untuk mengoleksi berbagai ide yang sempat terlupa.

Apalagi sekarang bangunan sekolah saat saya SD itu sudah tidak ada, sudah dilebur dengan sekolah lain karena keterbatasan lahan.

Teman-teman saat sekolah dasar juga sudah berumah tangga dan pindah domisili ke berbagai daerah di luar kota.

Momen yang sempat dibuat itu kemudian terus dicopy ulang dan dipaste-kan lagi dalam berbagai karya. Supaya kelak, anak cucu kami masih bisa mengenangnya.

Tempat inspirasi sekolah

Demikian juga saat berkesempatan silaturahmi ke bangunan sekolah waktu SMP di Tasikmalaya, berbagai ide menulis bermunculan mengingat kenangan waktu remaja sudah mulai bertambah banyak.

Interaksi dan pengalaman tidak hanya fokus pada belajar menulis dan membaca saja, tapi sudah mengenal pergaulan yang lebih luas lagi.

Pengalaman menginap di rumah teman, ngebolang dari satu kampung ke kampung lain, dari situ banyak sekali stok ide untuk dijadikan bahan tulisan bagi setiap content writer.

Adapun bangunan sekolah waktu SMU justru tidak banyak saya sambangi mengingat hampir setiap bepergian selalu saya lewati.

Kabar mengenai sekolah dan lingkungannya juga sering saya dapat secara cuma-cuma karena banyak saudara dan tetangga yang bersekolah di tempat yang sama.

Tanpa harus mendatangi lokasi, informasi yang diperlukan bisa dengan mudah didapatkan.

Perpustakaan

Adalah tempat selanjutnya yang selalu memberikan banyak inspirasi buat saya. Tempat dimana kumpulnya berbagai jendela dunia ini berada, selalu saya kunjungi.

Tidak pernah bosan, dan saya justru selalu mengangeni berbagai rak-rak buku yang penuh dengan ilmu, sejarah dan pengetahuan. Semua siap menyimpan ribuan cerita yang bisa kembali diceritakan ulang.

Keheningan suasananya memberi ruang untuk fokus dan eksplorasi ide secara maksimal. Cocok untuk segala kalangan, baik anak-anak, remaja, maupun mahasiswa dan profesional.

Untuk seorang blogger seperti saya, mengulik dan memperdalam SEO content writer cocok banget kalau dipelajari dalam suasana hening seperti ini.

Perpustakaan bagi saya adalah tempat yang sering memicu munculnya berbagai gagasan baik itu tentang perjalanan manusia, bahkan sampai soal kebijaksanaan rasa dan etika.

Tempat inspirasi perpustakaan

Tempat ibadah atau ruang spiritual

Saat menjadi musafir, saya selalu mengamati setiap rumah ibadah yang saya singgahi. Keunikan, ciri khas, sampai detail lainnya yang tidak dimiliki tempat ibadah lain selalu saya rekam dalam jejak dan ingatan.

Setiap dalam perjalanan, selalu muncul dan tertinggal berbagai gejolak emosi, nafsu hingga keegoisan diri. Namun ketika hati dibasuh air wudhu dan raga diajak bersujud untuk berserah diri, maka atmosfer damai itu langsung menyeruak membuat hati terasa jadi lebih jernih.

Ibadahnya tidak sampai lima menit. Tapi mengenang nya bisa sampai seumur hidup.

Tempat ibadah yang pernah saya singgahi selalu memberi inspirasi tentang makna hidup, rasa syukur, dan hubungan dengan sesama.

Semua pengalaman itu lebih dari cocok untuk dijadikan referensi dalam menulis refleksi, doa, atau narasi penuh makna.

Tempat inspirasi mushola

Rumah, surga duniaku

Bagian rumah yang sederhana di kampung selalu dirindukan dimanapun saya berada.

Rumah yang dibangun bermodalkan cucuran keringat dan kerjasama dalam menciptakan-nya bersama pasangan adalah tempat ternyaman setelah kedua orang tua tiada.

Tidak banyak bagian rumah yang selalu ngangenin dan memberikan inspirasi. Karena memang rumah kami minimalis tidak banyak design yang membuat orang terkenang.

Tapi sungguh sekian juta rasa kehangatan personal dan kenangan sehari-hari bersama ibu saat beliau masih ada, bersama anak semata wayang saat dia belum merantau ke luar pulau, semua itu kini justru sering jadi sumber ide paling tulus.

Dari hal kecil, lahir cerita besar yang relatable bagi banyak orang. Hal itu sudah berkali-kali saya buktikan.

Rumah kami yang sederhana bahkan sudah sekian belas tahun catnya pun belum berganti yang baru tapi meskipun begitu tetap jadi tempat ternyaman dan memberikan inspirasi yang mendalam. Begitulah rumahku adalah surgaku.

Tempat inspirasi dapur

Manteman, tempat-tempat tersebut di atas mulai dari gunung, sekolah, perpustakaan, rumah ibadah sampai rumah sederhana kami di kampung ini bagi saya itu bukan hanya mengandung makna secara fisik, tapi juga memiliki ruang batin yang menyalakan kreativitas.

Tempat yang biasanya lebih sering memberi inspirasi. Dari ruang alam terbuka seperti hutan, sekolah dan atau dari ruang personal seperti sudut rumah dan dapur tempat bereksperimen resep.

Semuanya sudah memberikan kontribusi yang nilainya tidak terhingga. Menjadi bagian dari karya yang saya abadikan di blog ini dan bisa dibaca anak cucu, kelak.

Related posts:

37 thoughts on “Di Balik Suasana 5 Tempat Menyulam Rasa yang Melahirkan Cerita”

  1. Bagiku, tempat ibadah dan dapur seringkali menjadi tempat banyak inspirasi muncul. Setelah khusu beribadah, pikiran yang tenang suka memunculkan ide-ide cemerlang. Meski kadang tidak semuanya terealisasi karena satu dua alasan. Tak bisa dipungkiri, beberapa tempat memang punya aura tersendiri yang membantu proses otak berpikir dengan lebih jernih dan mudah.

    Reply
  2. Bener banget, Teh! Tempat ibadah emang juara buat cari ketenangan. Abis sujud, hati berasa jernih lagi, ide nulis langsung ngalir.

    Reply
  3. Saya paling produktif itu justru saat di rumah. Menulis di meja kerja sederhana yang didampingi oleh tablet layar lebar. Suka banget kerja/menulis sambil dengerin musik atau nonton film. Lebih seru dan malah bikin saya bisa konsentrasi dengan baik. Di meja kerja juga biasanya ditemani oleh salah seekor anak bulu yang kadang iseng seolah-olah ikutan baca hahahaha.

    Reply
  4. Beberapa orang malah menambahkan bahwa kamar mandi bisa menjadi tempat untuk mendapatkan inspirasi. Entah itu, saat cuci muka sambil bersenandung riang atau saat memenuhi panggilan alam besar. Hehehe…

    Reply
  5. Sebagai sosok introvert, bagi saya, rumah adalah tempat ternyaman untuk menelurkan ide-ide mbak. Merenungkan apa saja yang sudah dialami di dunia luar rumah, mengendapkan, lalu jadilah tulisan.

    Btw, saya juga lebih suka mendaki gunung di musim panas/kemarau. Soalnya kalau musim hujan, licin. Nah soal lupa hutang sejenak saat di puncak, kayaknya ada benernya juga hehe

    Reply
  6. Karena daku nggak sering bertemu dengan pegunungan jadinya nggak masuk list daku. Kalau yang cukup dekat, sehingga menjadi tempat menyenangkan buat gali ide

    Reply
  7. Berkunjung ke bangunan almamater sekolah itu rasanya campur aduk. Yang pasti emang banyak kenangan. Tapi kalau bagi aku, teh, alih-alih jadi sumber inspirasi malah jadi sumber rasa penyesalan, hehehe. Jadi menyesal, kok dulu pas SMA begini, kok dulu pas kuliah begini, seharusnya begitu.

    Reply
  8. Aku juga menganggap kalau perpustakaan adalah tempat yang bisa mengundang banyak inspirasi.

    Aku ingat banget moment pertama kali aku ke perpustakaan adalah saat masih SMP. Kelas satu.

    Dulu tuh aku malah dibantu sama guru yang kuanggap killer saat memilih buku cerita yang ingin kupinjam dan baca di rumah.

    Sejak saat itu, aku menjadi sangat suka membaca novel. Hehehe…

    Reply
  9. Ide itu bisa muncul dari apa saja dan di mana saja, entah rumah, tempat ibadah, tempat wisata, dan lainnya. Yang penting kita bisa menangkap itu. Meski aku sendiri kadang biarin aja karena lagi pengen nyantai, memulihkan diri, tanpa berpikir banyak hal

    Reply
  10. Tempat favorit masa kecil adalah di mana kita setiap hari berkumpul dalam suka dan duka yaitu sekolah dan rumah selalu meninggalkan cerita yang tidak mungkin terlupakan walau usia semakin lanjut.

    Reply
  11. Tempat yang nyaman bisa membuat hati menjadi tenang dan tentram dari segala hiruk pikuk perduniawian. Dan tempat itu bisa ditemukan dari kenyaman individu, ada yang di tempat ibadah maupun tempat lain.

    Reply
  12. Sesederhana cupilkan video Youtube, ternyata jadi bahan ide tulisan loh teh. Kalau teteh ingat cerpen “Seragam Biru” tulisanku, itu inspirasinya dari video Youtube keluarga di Raja Ampat.

    Reply
  13. Aku suka dengan pegunungan, perpustakaan atau kamar mandi Teh. Kadang pas cuci baju seringkali muncul ide yang nggak tahu bisa kepikiran. Nggak kayak kalau duduk di depan meja. Duduk di sana seringnya nggak bisa muncul. Kecuali dipaksa keluar.

    Reply
  14. Wah naik gunung bisa bikin lupa hutang teh? Hehehe… tp turun gunung teteup ya harus dibayar. Klo aku sih tuk tempat cari inspirasi bisa di mana aja, yg penting sepi. Klo berisik gak bisa mikir. Jadi di kamar tuh paling sering muncul ide-ide brilian meskipun sekedar wacana haha.. :))

    Reply
  15. membaca tulisan Teteh berasa diajak “healing” sejenak lewat kata-kata. Saya sangat setuju kalau tempat-tempat itu bukan sekadar bangunan fisik, tapi punya nyawa karena ada kenangan di dalamnya.
    Bagian tentang menatap sunset di gunung sebagai pengingat waktu “pulang” itu sangat menyentuh dan dalam maknanya. Ternyata, inspirasi menulis memang paling jernih saat hati sedang tenang, baik itu di heningnya perpustakaan maupun hangatnya sudut rumah sendiri. Terima kasih sudah berbagi perspektif yang humanis dan sangat relatable ini, Teh!

    Reply
  16. Sebenarnya daku mau memasukkan almamater sekolah, cuma pas masuk ke sana suasananya udah beda, guru² daku dulu udah pada pensiun huhu. Padahal apik juga sih memang jadi tempat buat menggali ide

    Reply
  17. Pas banget nih saya lagi mau menulis tentang salah satu masjid. Saya mulai menulis tentang masjid ketika pernah cedera lutut dan harus sholat sambil duduk. Ke mana-mana jadi suka bawa bangku kecil. Mulai menyadari gak semua masjid menyediakan kursi. Padahal membantu banget bagi yang membutuhkan.

    Reply
  18. Ide kreatif tu sebenarnya bisa muncul di mana aja, tergantung manusianya. Tapi kalau orangnya suka ketenangan dan butuh konsentrasi tinggi, lokasi2 yang disebutkan teh Okti tu cocok banget.
    Kalau aku pribadi suka di rumah aja, tapi kadang di luar rumah kek perpus atau kafe pun bisa. Nggak terlalu butuh lokasi hening yang penting tu nggak ada keributan yang lebay 😀
    Kalau menyambangi almamater sekolah malah jarang bisa “kerja” soalnya banyak yang ditemui untuk disapa2 hehe. Kecuali nih bisa mampir sejenak ke perpus/ masjidnya hihi 😀

    Reply
  19. Aku kalau cari ide biasanya jalan keluar, baca buku, nonton film gituuu. Tapi emang pegunungan di sore hari juga bisa ngebantu capturing moment banget. Apalagi pas sunset kan, bisa lebih seger buat nyari ide.

    Reply
  20. Ada banyak tempat ya yang bisa membangkitkan inspirasi kita. Bahkan ada juga tuh yang dapat inspirasi di kamar mandi. Kalau aku belum tahu sih, Teh sukanya dapat inspirasi di mana tapi kayaknya seru nyari inspirasi sambil memandang senja gitu

    Reply
  21. Lima tempat yang sangat menarik dan penuh cerita sekali mbak. Di sana banyak ide bermunculan. Seperti melihat sunset di area gunung, kebayang indahnya dan banyak rasa syukur terucap. Diantara syukur hadir ide dan kreativitas.

    Pun dengan sekolah, perpustakaan, ruang ibadah hingga rumah. Selalu punya sudut nyaman dan menghadirkan beragam ide menarik. Kreativitas tetap tumbuh dan semakin subur bila terus diasah dan jiwa berpaut sama tempat berpijak. Sangat inspiratif sekali.

    Reply
  22. Buatku, kamar ((dan meja kerja)), teh..
    Lama pulkam ke rumah orangtua, meski kembali ke kamarku yang aku tinggali saat dulu masih gadis, rasanya tetep uda “beda” yaa..
    Memang sumber inspirasi datengnya bisa dari mana aja sih..

    Tapii.. terlebih di rumah, rasanya jadi sangat familiar dan semoga senantiasa mengajak pada kebaikan.

    Reply
  23. Duuuh, teteh, aku ikut ngebayangin sore di gunung itu, sunsetnya aku suka banget pasti. Ternyata nostalgia ala Teh Okti punya cara sendiri buat nyuplai ide ya. Dari dulu suka sama tulisan-tulisan sederhana Teh Okti dari desa. Nggak semua orang bisa rasakan itu setiap hari. Makasih teteh.

    Reply
  24. Kalau lokasi pertama, jelas tidak Mbak. Soalnya saya belum pernah naik gunung. Mau sekarang, usia dan stamina jadi kendala hehehe. Kalau perpustakaan saya juga yess. Banyak ide yang saya dapat saat berada di sana. Nah paling menarik ini bangunan sekolah. Saya pengin Napak tilas ke Makassar dan mengunjungi sekolah saya. Apalagi SD saya itu di belakang rumah dua dulu yang sekarang sudah jadi ruko hehhee. Kalau sudut rumah, pasti akan ada banyak ide yang muncul.

    Reply
  25. Sepakat banget dengan kelima tempat memunculkan ide dan melahirkan ceritanya. Pegunungan, bangunan almet, perpustakaan, tempat ibadah, dan rumah. Di kala orang-orang memilih laptopan di kafe yg cozy, saya mah sukanya di kamar aja, ada spot khusus buat saya kerja yg nyaman dan kl pingin rebahan meluruskan badan, tinggal lompat aja ke kasur, hehe.

    Reply

Leave a Reply to Yola widya Cancel reply

Verified by ExactMetrics