Ghosting

Ghosting lagi heboh di medsos, apa sih artinya?

Istilah ghosting mendadak viral di media sosial. Saya angkat ini jadi sebuah tulisan (curhat) karena dipikir-pikir, ternyata saya pernah mengghosting orang, yang tiada lain dia sanga mantan.

Hal ini saya akui, kalau menilik dalam sebuah hubungan, ghosting digunakan untuk menggambarkan praktik penghentian yang menutup semua akses komunikasi dengan individu lain, biasanya pasangan atau teman. Penghentian komunikasi ini juga muncul tanpa peringatan atau pembenaran yang jelas. Nah itulah yang saya pernah lakukan kepada si dia. Dulu… Saat masih pakai seragam abu.

Katanya ghosting mudah dilakukan saat seseorang memilih pergi atau mengakhiri hubungan dengan menghindar dan tak dibicarakan secara baik-baik. Kita pernah melakukan hal itu gak sih? Atau justru diperlakukan seperti itu oleh sang mantan orang lain?

Menurut psikolog pro Help Center dan konselor IAC (Indonesia Association Counseling) Nuzulia Rahma Tristinarum, perilaku ghosting bisa memicu dampak psikologis bagi ‘korbannya’. Pasalnya, mereka bisa merasa ‘ditolak’ hingga kerap timbul rasa cemas dan turunnya rasa percaya diri. Itu saya kutip dari berita di cnnindonesia.com

Bisa jadi kalau kita mengghosting orang, atau kita dighosting orang akan timbul rasa kesepian, sedih, cemas, mood gak enak, bahkan bisa memunculkan penurunan self-esteem.Ga tahu deh apa itu maksudnya. Parahnya bisa menimbulkan frustrasi dan depresi. Beuh, berat juga ternyata ya yang putus hubungan akibat digantung eh dighosting ini…

Kenapa sih harus melakukan ghosting? Pengalaman saya sih (kalau bener apa yg saya lakukan dulu itu ghosting) adalah karena saya susah komunikasi sama dia yang dimaksud. Jadi ya saya pilih tinggalkan saja. Lagian jaman dulu tuh belum ada telepon genggam apalagi internet buat medsosan kek sekarang.

Tapi kalau dibilang alasannya karena tidak memiliki komitmen dalam sebuah hubungan, saya pikir tidak juga. Karena sebelumnya saya dan dia sama -sama berjanji (ciee… Biasa orang pacaran kek gimana tahu kan…) jadi komitmen itu dasarnya ada. Itu kalau saya lho ya. Jadi kalua pas di tengah jalan ada masalah, ilang feeling, itu lain lagi kan ya alasannya. Belum berarti juga karena adanya masalah psikologis kena ya?

Kalau kata psikolog salah satu pemicu orang melakukan ghosting adalah sulit mengkomunikasikan keinginan untuk mengakhiri hubungan. Nah itulah yang persis saya alami. Hanya karena saya yang mengghosting doi, bukan saya yang dighosting, jadi bukan karena tidak tega atau tidak siap dengan respons dari doi, alasannya ya sudah ga ada niat untuk meneruskan hubungan, plus susah komunikasi saja.

Saya cerita soal ghosting ini selain karena lagi viral, punya pengalaman sendiri, juga karena melalui tulisan ini saya ingin minta maaf ke sang mantan yang saya udah ghostingin. Meski doi sekarang udah berkeluarga bahagia dengan anak istrinya tapi jujur saya belum minta maaf dan antara kami ga ada pembicaraan soal hubungan dulu yang “hilang” gitu aja kaya ghost alias hantu…

Ada yang pernah ngalamin seperti saya? Atau justru jadi korban ghosting sang mantan?

Comments

  1. waduh kayaknya aku yg jadi korban ghosting mbak
    awalnya aku ga paham nih istilah ini muncul di sosmed akhir-akhir ini
    dan karena banyaknya review temen temen jadi tau juga akhirnya

Speak Your Mind

*

%d bloggers like this: