Mengidolakan Pelakor?

Mengidolakan Pelakor?

Tahun 1995-an, ketika masih kinyis-kinyis pakai seragam putih biru lagu “Rasa Cintaku” yang sering terdengar dari radio sangat saya hafal lirik dan lagunya. Saya sangat mengidolakan penyanyi nya. Tidak mengira sama sekali jika sekarang, mungkin orang bilang kok mau-maunya mengidolakan seorang (maaf) pelakor alias (perebut lelaki orang)?

 

Rasa Cintaku
Cintaku semakin dalam padamu sejak kutahu cintamu
Kasihku t’lah kaubawa dan tunjukkan arti sebuah kesetiaan
Sungguh terlalu rasa cintaku padamu
Tak ingin lagi yang lain

Jangan ada kata-kata berpisah
Jangan, jangan, aku takut mendengar
Kuingin selalu selamanya denganmu

Hatiku diselimuti cintamu menghangatkan jiwaku, oh…
Sungguh terlalu rasa cintaku padamu
Tak ingin lagi yang lain

Jangan ada kata-kata berpisah
Jangan, jangan, aku takut mendengar
Kuingin selalu selamanya denganmu, oh…

Hanya engkau saja satu-satunya
Tempatku bersandar di dalam dunia
Hanya kepadamu kuserahkan cintaku, oh…

Jangan ada kata-kata berpisah
Jangan, jangan, aku takut mendengar
Kuingin selalu selamanya denganmu

Senandung itu terus terdengar meski untuk berangkat ke sekolah saya harus berjalan kaki sekitar 2 km, lalu menanti kendaraan yang bisa membawa saya ke sekolah. Biasanya mobil colt L300, atau kendaraan elf. Namun tidak jarang saya juga naik truk tengki Pertamina yang sopirnya ikhlas membawa saya demi bisa segera sampai di sekolah.

Maklum ABG (ini asli kepikirannya baru sekarang) saya ngebet banget sama lagu itu dan ngefans sama penyanyi nya karena saat itu saya lagi jatuh cinta naksir teman satu angkatan. Sayangnya rasa itu tidak sampai. Hikz! Saat itu teman-teman malah heboh dan tahunya saya ditaksir sama teman yang berasal dari desa tetangga. Kezeeel…

Sudahlah… semua sudah berlalu. Namanya juga masih cinta monyet, akhir dari semuanya pun sungguh di luar dugaan. Dia yang saya taksir setelah lepas seragam putih biru malah merantau ke Bali, ikut keluarganya. Dia yang katanya naksir saya, juga melanjutkan sekolah ke ibu kota, sampai sekarang malah tidak ada kabar beritanya. Sementara saya sendiri saat itu mau melanjutkan sekolah ke luar kota, ikut mama karena bapak telah meninggal dunia.

Dan siapa kira jika diam-diam, kepergian saya itu ternyata membuka mata hati kami, saya dan seseorang yang selama ini memang sudah dekat dengan saya. Ternyata kalau seseorang yang selama ini dekat dengan saya itu, yang sudah sudah saya anggap sebagai bagian dari keluarga, justru merasakan kehilangan atas kepergian saya. Dan saya pun merasakan rasa itu…

Di kota tempat saya tinggal sampai sekarang ini, penyanyi itu kembali mengeluarkan album yang isinya lagi-lagi sesuai kata hati. Penyanyi idola saya ini seolah bisa merasakan apa yang saya rasakan.

Lagu berjudul “Beri Kesempatan” seolah menjadi ucapan saya untuk seseorang yang saya tinggalkan tadi…

Beri Kesempatan
Katakan saja, tak perlu lagi kausembunyikan
Semua prasangka yang ada dalam hatimu

Sudah terlanjur ‘ku terperangkap gejolak asmara
Dan tak pernah ada rasa cinta di hati
Memang kuakui semua ini kesalahan padaku
Tetapi mengapa tiada kata-kata maaf darimu

Tak sanggup lagi aku menangis, kering sudah air mata
Berilah kasih ‘ku kesempatan merubah s’gala sifatku
Ataukah aku harus pergi

 

Semua rasa itu mengalir begitu saja, tanpa saya sadar kalau diantara kami sebenarnya ada rasa takut kehilangan. Pun demikian dia, yang tidak berani mengucap dan mengalah. Namun yang menjadi masalah bahkan hampir bikin kami gila justru dia berterus terang akan segala rasanya padaku sesaat sebelum hari pernikahan dengan calon istrinya dilangsungkan!

Saya benar-benar menangis. Kenapa semua ini harus terbuka pada saat yang salah?

Setahun kemudian muncul “Harus Malam Ini”. Tepat ketika saya memasuki tahun mengenakan seragam putih abubabu. Tahun berikutnya terlahir lagi rangkaian kata berjudul “Tiada Lagi” dari penyanyi sang idola ini. Bersamaan dengan masa-masa saya kembali merasakan jatuh cinta dengan teman sekelas. Ah, masa indah sekaligus masa yang bikin saya pustasi. Saya patah hati.

Bagaimana tidak, kami jadian dan jadi sepasang bulan-bulanan kawan di kelas. Pulang sekolah bareng, ikut acara di luar jam pelajaran bareng, sampai apel ke rumah kost diantar kawan beramai-ramai. Masa indah yang mirip Ada Apa Dengan Cinta kali ya…

Tapi siapa kira juga, jika bersamaan dengan tahun kelulusan kami, dia memutuskan saya dengan alasan dia ingin sendiri saja. What? Alasan apa pula itu?

Sebagai perempuan ya saya tidak bisa bagaimana… saya mencoba bijak (ceile… Sakit hati saja pakai gaya pula) saya mencoba menerima keputusannya. Kami (berusaha) pisah secara baik-baik, meski kenyataannya tidak begitu. Bagaimana tidak, kami sekelas!

Setiap sampai di tempat kost, lagu penyanyi idola “Kusalah Menilai” jadi teman saya pagi siang dan malam. Nonstop kasetnya (masih jaman kaset loh ya) saya putar di radio tape recorder warisan almarhum bapak.

Sedih, kecewa, dunia berasa runtuh itu mungkin seperti itu rasanya. Teganya…

Ku Salah Menilai
Sekian lama sudah kita t’lah bersama
namun kau banyak berubah
kini tiada lagi rindu di hatimu
yang dulu hanya untuk diriku
harus kusadari kita
Semakin t’lah berbeda
Rasanya Tak mungkin bersama lagi
Biar kusimpan rasa kecewa
Biarlah aku yang mengalah
Takkan ku menghalangi keinginanmu
Biar kucari jalan sendiri
Biarlah asal kau bahagia
Mungkin ini semua kesalahanku menilai dirimu

Selama belasan tahun selanjutnya, 1999-2012 tepatnya, lagu itu selalu saya nyanyikan dalam diam. Semua lagu yang dibawakan suara emas milik penyanyi idola saya itu saya hafal, terasa jadi teman, pelampiasan kekecewaan sekaligus pelipur kesedihan. Hingga saya bertemu jodoh sepulangnya dari Taiwan, baru perlahan semua itu saya tinggalkan.

Belasan tahun hidup di rantau dengan akses komunikasi lebih banyak tersendat bikin saya kurang apdet dengan berita terbaru dan terpanas. Termasuk kisah perjalanan hidup sang penyanyi idola saya ini.

Kalau kalian tahu lagu yang menjadi kata hati saya sejak saya ABG sampai sekarang itu, pastilah kalian tahu, siapa gerangan penyanyi sang idola saya. Teman teman satu angkatan dengan saya pasti tahu berita heboh tentang dia. Dan buat yang sama sekali tidak tahu jalan ceritanya, bisa searching di mesin pencarian. Saya yakin semua dengan mudah akan terkuak mengingat sang idola dan masalahnya adalah masalah yang sangat buming apalagi saat ini. Pelakor.

Wallahualam dengan semua itu. Tapi saya tetap menyukai semua lagu dan lirik sang penyanyi. Orang boleh mencaci maki dia, tapi karya dan seninya tetap ada melegenda  dalam hati saya…

 

Comments

  1. Waktu baca ini jadi terus bertanya-tanya ini lagunya siapa. Sampai ke bawah nyari inisialnya pun ga ada, 🙂
    Pada akhirnya saya searching menggunakan sepotong liriknya daaaan… dapat! Haha.

    Terlepas dari cap atau apapun sebutannya, tidak mempengaruhi karya-karya yang dihasilkan seseorang. Karena setiap insan memiliki problematika hidupnya masing-masing.

  2. Kalau mengidolakan manusia akan kecewa kalau suka lagunya ya udah nikmatin aja hahaha. Aku malah nggak berani kalau Ikut2 Jugde orang. Habis bukan saudara jadi jalan ceritanya nggak tahu.

  3. Waduh, aku cuma tahu lagu yang pertama tuh. Aku juga suka. Mayang Sari, kan? Hehehehe… seru banget deh cerita Teh Okti. Hihihi, aku jadi inget cerita diri sendiri. Kepengen sih ditulis kayak gini. Tapi anak2 aku udah ada 2 yang gede. takut malah dikomplen. Ada tokoh lain selain bapaknya. :)))

  4. Iya kak, kadang pendengar harus bisa memisahkan mana ranah hiburan dan dunia nyata, the singer is not always the song, biarlah lagu menjadi momen kenangan hingga kini

  5. Aku saking nggak tau dan nggak ngertinya dan nada lagunya kayak apa pun aku nggak kebayang sampai aku searching dan ternyata Mayang Sari. Lalu aku bingung, siapa sih doi?

    Hahaha … Maafin ya Teh.

    Btw beneran Teteh numpang naik truk tangki pertamina buat berangkat sekolah? Gimana ceritanya ko bisa gitu? Aku malah penasaran soal itu.

    • Iya. Asli. Bukan saya saja tapi hampir semua anak SMPN 1 Salawu, Tasikmalaya saat itu. Waktu itu naik angkot anak sekolah bayar seratus rupiah. Sementara kalau umum 300 atau 500. Jadi sopir malas bawa anak sekolah. Jadinya kami nyegat mobil apa saja yang bisa bawa ke sekolah. Seringnya ini mobil tengki Pertamina itu… Sopirnya baik2… Kami naik bukan seorang dua orang, kadang sampai lima atau tujuh orang sekaligus…

  6. Oo Mayang Sari toh… Baca ini dari awal aku bingung, siapa ya penyanyi yg dimaksud, baru ngeh pas baca komen temen lain… Hahaha… Kan suka Ama lagunya Mbak, bukan Ama tingkah penyanyinya ..

  7. Daku nggak paham artis di tahun itu, baru engeh baca komentar dimarih, siapa artis yang dimaksud hahah…

    Nggak apa nge fans sama beliau, ambil yang baiknya dan buang yang buruk. Karena tentu masih ada kebaikan yang bisa diambil

  8. Bukan yg terbaik itu saja si teh ya intinya.. sayapun ada bbrp lagu pas bngt kejadian dulu smp hapal klau dnger lagi itu asa galau nya kumat

  9. Semoga netizen bisa memisahkan antara karya dan sikap si penyanyi. Karena karya tetap jadi abadi selamanya dan tak berubah karena akan terus diingat sepanjang waktu

  10. Aku tadinya juga ngga tau apa itu pelakor, ternyata ada lagunya juga ya.. dan aku sih belum pernah denger lagunya hehe akhirnya tahu apa itu pelakor ya dari sosial media hihi.. sebagai netizen budiman, yuk ah selalu memberikan hal-hal positif, InshaAllah jika kita selalu berbuat baik, akan mendapatkan hasil yang baik juga.. aamiin

    • Duh… Maksudnya bukan gitu deh Mbak!
      Baca dulu semua artikel saya deh. Pelakor kan istilah yg muncul tahun ini. Sementara lagu2 yang saya kutip kan itu lagu sejak tahun 80-90an

      Jadi salah faham nih…

  11. Teh Okti, aku nggak paham lagu-lagunya, Kataku sih, kalau memang sebuah lagu enak dinikmati, ya nikmatilah (kadar suka orang kan berbeda). yang penting bisa bahagia dan menjadi pelipur lara hahaha

Speak Your Mind

*