Merindu Berburu Takjil

Selalu saya dan suami tekankan kepada anak didik mengaji, di Pondok Mengaji Al Hidayah yang kami kelola, bahwa takjil itu sebenarnya adalah bahasa Arab, yang artinya menyegerakan. Dalam arti setelah masuk waktu berbuka puasa, segerakan untuk membatalkan puasa, bisa dengan minum, atau makan sesuatu.

Arti dari kata takjil Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disebutkan kalau takjil berarti mempercepat dalam berbuka puasa.

Waktu berbuka puasa itu sendiri, masih dalam bahasa Arab istilahnya adalah iftar.

Jadi saya dan suami berharap agar anak-anak dapat memahami bahwa iftar dan takjil adalah dua istilah dari bahasa Arab yang sejatinya memiliki makna kata yang berbeda. Iftar adalah berbuka puasa, sementara takjil adalah menyegerakan buka puasa.

Namun seperti kita ketahui saat ini, orang Indonesia jadi memiliki salah persepsi. Kata takjil jadi diartikan sebagai makanan, tepatnya makanan untuk berbuka puasa.

Karena itu, berbagi takjil juga jadi salah satu tradisi khas di bulan Ramadan yang mudah dijumpai di Indonesia. Tujuan berbagi takjil adalah agar semua umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa dapat segera berbuka.

Makanan dan minuman takjil umumnya dibagikan di tepi jalan atau disediakan di masjid secara gratis. Karena itu salah satu yang saya rindukan dari Ramadan, adalah keseruan saat berburu takjil. Alias berburu makanan (gratis) untuk berbuka.

Masih ingat saja saya dan teman-teman satu kampung, kalau sore, ngabuburit itu berkeliling dari satu surau ke surau lain. Dari satu rumah orang kaya di jalan raya sana, ke rumah orang kaya lainnya, atau datang ke tempat rumah-rumah di daerah perumahan elite sana, demi mendapatkan pembagian takjil gratis.

Setelah dapat lalu kami kumpulkan. Kalau ada teman yang belum dapat pembagian dari satu tempat, segera kita kasih tahu dan yang bersangkutan terbirit-birit menuju lokasi. Kadang dapat kadang tidak karena sudah kehabisan. Kalau tidak dapat biasanya kami sorakin. Saling mengolok, tanda dia kalah berburu. Tapi itu gak jadi masalah. Gak jadi sakit hati. Namanya juga masih anak-anak. Seru aja malah dibuatnya.

Sejak kecil saya juga sudah diajarkan dan diberi tahu oleh guru mengaji kalau arti takjil dalam Islam adalah perintah untuk menyegerakan berbuka puasa. Tapi kami yang masih kecil sudah menganggap kalau takjil itu makanan untuk berbuka, mengikuti pemahaman orang dewasa.

Jadi tidak heran ya kalau dalam perkembangannya, masyarakat Indonesia kerap mengartikan kata takjil sebagai makanan untuk berbuka puasa. Takjil mengalami perluasan makna, di mana tidak sedikit yang memahaminya sebagai makanan dan minuman untuk berbuka, seperti gorengan, es blewah, bahkan kurma.

Kembali ke kenangan berburu takjil. Setelah sebentar lagi magrib berkumandang, kami segera pulang dan mempersiapkan diri berbuka puasa. Menu takjil yang bermacam-macam itu dipilih kira-kira mana yang terenak dan terunik. Itu yang dimakan duluan.

Biasanya menu takjil yang didapat tak jauh dari makanan manis-manis atau gorengan. Kolak pisang, kolak kolang-kaling, dawet, cendol, dan gorengan kampung seperti bakwan, tahu isi dan goreng pisang. Jaman saya kecil belum ada jenis minuman kekinian seperti boba atau es buah.

Anehnya, setelah makan atau minum salah satu minuman manis atau makanan takjil itu, rasa kenyang langsung terasa. Tidak meneruskan makan takjil lainnya, karena harus makan nasi sebagai makanan pokok. Kalau tidak makan nasi, bapak ibu bisa marah besar. Takut tidak kuat berpuasa keesokan harinya. Dan saya juga adik, sangat takut kalau bapak sama ibu sudah marah.

Akhirnya menu takjil sekian banyak dari beberapa tempat itu dibiarkan saja. Kalau perut masih kosong, biasa habis solat tarawih kembali dimakan. Kalau tidak, entah kemana atau dimakan siapa karena biasanya langsung tidur dan makanan hasil berburu takjil itu dibereskan ibu.

Tapi besoknya berburu takjil bersama teman-teman sebaya satu kampung masih tetap kami lakukan. Seru saja sensasinya berebutan makanan takjil bersaing dengan teman. Toh kalau suka atau tidaknya, dimakan habis tidaknya, itu urusan belakangan.

Jadi sensasi berburu takjil nya yang sangat menyenangkan buat kami saat itu, dan sampai sekarang selalu terkenang. Rindu kebersamaan dan kekompakan dengan teman-teman satu kampung lainnya.

Berburu takjil ini jadi kenangan terindah saat Ramadan masa kecil saya. Selain bisa punya baju baru dan dapat uang jajan lebih. Sekarang udah dewasa, jangankan bisa berburu takjil seperti dulu, yang ada malah malu dan saat Ramadan justru enggak kemana-mana.

16 thoughts on “Merindu Berburu Takjil”

  1. akupun superr demen berburu takjil dgn teman dan kluarga.
    kadang ke masjid….kadang datang ke bazaar ramadan.

    aakkkk, kok kangeenn dan cinta bgt dgn nuansa Ramadan ya

    Reply
  2. Kalau zaman kecil dulu, berburu takjilnya ya di masjid. Karena tiap hari bakal ada takjil yang berbeda-beda, jadi nggak bosen. Kadang kalau masih banyak sisa takjilnya, boleh dibawa pulang.

    Reply
  3. Ramadhan salah satunya memang identik dengan berburu takjil.
    Kenangan bulan puasa yang sangat membekas dalam ingatan.
    Berkah Ramdhan memang sangat banyak kalau diingat2 lagi ya.

    Reply
  4. Jaman kecil dulu seneng banget rasanya kalo bisa buka puasa di masjid, jadi ajang berburu jajanan favorit. Kalo pas kuliah dulu, yang dicari adalah masjid yang nyediain nasi bungkus buat buka puasa

    Reply
  5. Seketika aku diculik saat masa-masa kecil dulu dan menikmati suasana berburu takjil orang-orang di jalanan, karena aku tinggal di dekat jalan raya
    Karena gak dibolehkan ibu untuk ke pasar untuk berburu takjil, jadi cukup menikmati keriwuhan jalanan
    Selain itu, ibu biasanya yang suka bikin takjil sendiri

    Reply
  6. Banyak orang taunya takjil makanan manis untuk buka puasa. Katanya mau keluar beli takjil wkwk

    Dulu zaman aku ngekos di Jakarta juga suka berburu takjil, Mbak. Banyak yang berbagi gratis. Kalau pas di desa jarang sih. Adanya di masjid paling.

    Reply
  7. Jadi ingat masa kecil dulu. Semua anak di kasih uang sama ortu buat jajan takjil. Padahal mama sùdah masak dirumah. Ada aja yang di bawa pulang oleh anak2nya setelah di kasih uang utk berburu takjil. Maklum rumah di kawasan yang banyak orang menjual berbagai makanan takjil. Rasanya saat2 itu terkenang selalu.

    Reply
  8. Yang ditunggu tunggu setiap Ramadan tuh keseruan seperti ini ya, teh..
    Dan selain itu, terasa sekali kekeluargaannya antar tetangga, teman dan jamaah Pondok Mengaji Al Hidayah.
    Memang waktu yang terbaik bagi orang yang berpuasa adalah waktu berbuka.
    MashaAllah~

    Reply
  9. Jadi keinget sama momen berburu takjil pas kuliah, mbak. Kadang, malah dapet bonus nasi kotak juga. Yang paling sering di masjid kampus. Berkah bulan ramadan, bikin pengeluaran jadi berkurang, alhamdulillah.

    Reply
  10. Sebelumnya tahunya takjil ini makanan berbuka tapi setelah cari tahu ternyata maknanya itu menyegerakan berbuka ya tapi di Indonesia udah terlanjur melekat kata takjil dengan hindangat berbuka puasa, hehe

    Reply
  11. Zaman dulu kecil suka sekali bukan puasa di masjid karena banyak takjil disana, tapi pas aku suruh anakku sekarang GK ada yg mau katanya malu

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics