My Generation: Pelajaran untuk Orang Tua dan Remaja Kekinian

My Generation: Pelajaran untuk Orang Tua dan Remaja Kekinian

Istilah kids zaman now (remaja kekinian) sedang populer. Sebanding dengan sebutan generasi milenial, generasi sekarang yang hidup dalam era serba digital. Sebaliknya para orang tua dari kids zaman now adalah mereka yang menjadi pengisi jaman doeloe alias jadul.

Sama seperti saya rata-rata angkatan tahun 70 hingga 90-an. Dimana saat itu belum terpikirkan segala sesuatu serba digital. Kirim surat masih mengandalkan perangko dan Pak Pos, belum ada sambungan seluler telepon rumah atau telepon kantor saja belum bisa diakses masyarakat luas. Apalagi internet, masih jauh belum ada dalam pikiran maupun bayangan.

Karena itu generasi anak kelahiran tahun 70-90an jelas beda dengan generasi anak kelahiran 2010 hingga kini. Baik dalam segi bentuk permainan, pola asuh dan pendidikan, juga pergaulan serta tata krama.

Mau tidak mau pro kontra pun timbul. Orang tua merasa apa yang pernah dialami semasa anak hingga mereka dewasa adalah contoh baik lalu menjadikan hal tersebut bagai sesuatu yang harus diwariskan kepada anak. Pola pikir, cara mendidik, etika dan sebagainya. Orang tua lupa jika zaman sudah berubah. Lain dulu lain sekarang. Meski kebaikan tidak akan tertukar dengan keburukan, namun adakalanya cara penyampaian atau metode yang berubah mengikuti perkembangan zaman.

Pro kontra pola asuh anak dan dedikasi orang tua makin menggeliat. Orang tua merasa benar terlebih kepada anak sendiri. Sebaliknya anak mulai jenuh dan melawan karena hari-hari mereka selalu dijejali hal hal yang menurut mereka di luar nalar dan tanpa memberikan mereka pilihan sesuai kemampuan.

Siapa yang salah kalau sudah demikian?

Saya sendiri beserta suami merasa anak adalah titipan paling berharga di dunia ini. Karena itu apapun kan kami lakukan yang terbaik untuknya. Tapi bukan dengan cara mencetak anak supaya plek ketiplek sesuai dengan harapan saya dan atau suami, karena kami tahu setiap anak punya kemampuan dan pikiran yang berbeda. Yang kami bisa hanya membimbing anak, mengarahkan dan membantunya dalam mencapai apa yang ingin diraih anak selama itu baik dan benar.

Sayangnya tidak banyak orang tua kekinian yang pikirannya terbuka seperti itu. Emang ada? Wah banyak. Orang tua dan anak yang tidak bisa saling memahami atau tidak mengerti bagaimana mengahadapi permasalahan terkait anak dan orang tua teramat banyak dan mudah kita temukan.

Salah satu dari salah empat contohnya adalah masalah Orly dengan ibunya. Orly anak perempuan yang kritis pintar dan berprinsip. Sebagai remaja kekinian sesungguhnya Orly sedang dalam masa pemberontakan akan kesetaraan gender dan hal lain yang melabeli kaum perempuan. Orly berusaha mendobrak dan menghancurkan label label negatif yang sering diberikan kepada perempuan.

Masalah lain Orly tidak sreg dengan ibunya yang single parent dan sedang berpacaran dengan pria yang jauh lebih muda. Bagi Orly gaya hidup sang ibu tidak mencontohkan hal baik terlebih buat ia sebagai anak perempuannya.

Masalah lain bisa dilihat dari Zeke yang sedang memendam masalah besar dan menyimpan luka yang dalam di hatinya. Zeke merasa orang tuanya tidak mencintainya dan tidak menginginkan keberadaannya. Bayangkan jika seorang anak punya pemikiran demikian lalu mau bagaimana kelak ia menjalani kehidupannya?

Kejadian lain dialami Suki yang memiliki krisis kepercayaan diri. Orang tua Suki selalu saja berpikiran negatif padanya. Tanpa memberikan kesempatan kepada anaknya untuk mencoba, memilih atau memberi kesempatan sehingga putrinya ini bisa percaya diri. Tekanan orang tua justru membuat Suki makin tenggelam.

Lain lagi dengan masalah sang pemuda polos dan naif yang lagi dilema dalam masa pubertasnya. Sebut saja Konji, ia sedang merasa ditekan oleh aturan orang tuanya yang sangat kolot dan over protective. Alih-alih menurut, Konji malah tidak percaya lagi sama orang tuanya manakala tahu justru orang tuanya sendiri yang melakukan apa yang sebelumnya dilarang. Moralitas orang tua Konji yang tidak sesuai dengan peraturan yang mereka tuntut terhadap Konji jadi masalah besar dalam kehidupan pemuda tanggung ini.

Duh serius amat sih bacanya… Tapi beneran itu baru sebagian kecil masalah antara anak dan orang tua zaman now. Itu hanya contoh kasus yang bisa kita intip dari trailer Film MY GENERATION yang sudah dirilis Ifi Sinema di Qubicle Center Kebayoran Jakarta.

Ifi Sinema yang mulai berkecimpung di industri perfilman sejak tahun 2007 memang akan meluncurkan film genre drama remaja mengangkat problematika remaja milenials. Menggandeng Upi sebagai sutradara dan 4 pemain fresh yang sesuai dengan karakter remaja milenials. Ada BryanLangelo, Arya Vasco, Alexandra Kosasie dan Lutesha.

Menggandeng para pemain baru ini diharap membawa suasana baru dan suasana lebih segar bagi perfilman Indonesia. Adi Sumarjono produser Ifi Sinema yakin keempat pemain muda ini tidak kalah akting dan kemampuannya. Sesuai dengan niatnya mengangkat talent-talent baru yang nantinya akan jadi the next generation dari industri film tanah air.

Dibantu pemain senior yang aktingnya sudah teruji tidak luntur dimakan waktu seperti Tyo Pakusadewo, Ira Wibowo, Surya Saputra dll, sutradara Upi dapat mengemas semuanya dengan apik.

Angle cerita MY GENERATION mengangkat generasi milenials dengan karakter unik. Bergesernya gaya hidup modern akibat era digital melahirkan generasi milenials dengan karakter yang unik dan permasalahan yang kompleks. Upi ingin mengangkat realita lebih dekat tentang kehidupan generasi milenial ini.

Dalam pembuatannya Upi telah melakukan riset social media listening selama 2 tahun lho! Sementara pembuatan filmnya sendiri butuh waktu sampai 1 tahun.

Film MY GENERATION yang mengisahkan persahabatan 4 anak remaja ini akan mewakili pemahaman kita seperti apa anak zaman now itu sesungguhnya. Karakteristik berbeda dengan konflik yang beda dapat memberikan gambaran kepada orang tua supaya lebih bijak dalam menghadapi anak generasi milenials. Aturan saja tidak mempan tanpa disertai dengan keteladanan.

Jangan sampai lupa, MY GENERATION tayang 9 November 2017 dan bersiaplah jadi orang tua baru masa kini.

 

16 thoughts on “My Generation: Pelajaran untuk Orang Tua dan Remaja Kekinian”

  1. Film ini emang bagus nampaknya buat ditonton sama ortu, guru, juga remajanya sendiri ya mbak. Semoga saja sesuai harapan ada pesan yang bisa diambil, gak sekadar ngegambarin “pemberontakan” remaja.

    Reply
  2. Ngeriiii punya anak remaja zaman now, kurang perhatian dari orang tua bisa mbablas karena salah pergaulan. Orang tua terlalu posesiv pun ga baik buat anak. Jadi harus pinter2 banget ngasuh anak remaja sekarang

    Reply
  3. saya lihat trailer tadi siang pas nonton thor ragnarok wiiih mantap bu bagaimana anak jaman sekarang berprilaku rencana saya mau bawa anak nonton film ini kaya nya wajib untuk anak dan orang tua jaman sekarang memahami dan di pahami keren bu okti eiy

    Reply
  4. Mbaaak….jujur aku kok malah agak ngeri ya kalau film ini ditonton generasi kids jaman now tanpa pendampingan orang tua. Maaf ya Mbak…ini komen jujur dari hati terdalam.
    Terlepas dari sutradara yang bilang atau temen yang bilang tentang pesan yang diusung dst..dst…Mungkin saya termasuk yang kontra dengan film ini.

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics