Masseur Kampung Go Online

Tiba-tiba tukang tahu keliling itu berseloroh, “Benar-benar ya sekarang itu, tukang urut di kampung saja mulai go online…”

Saya dan suami tertawa.

“Ih, atuh jaman sekarang mah kita ini apan harus go digital. Ya, Bu?” jawab istri Pak Utis, sambil memalingkan wajah kepada saya. Hanya anggukkan sambil tersenyum sebagai penanda saya menyetujui pendapatnya.

“Ayo masuk dulu, Bapak dan Ibu. Menunggu sebentar suami saya lagi di jalan ke sini.” Selanjutnya istri Pak Utis itu membukakan pintu lebih lebar dan membereskan mainan (yang saya rasa itu milik cucunya) di ruang tamunya.

Meski betah berada di luar, melihat pemandangan yang masih sangat asri dan alami, saya segera mengajak suami masuk. Ingat pada rencana awal jauh-jauh datang kemari bermaksud ingin bertemu tukang urut. Sementara jam sembilan nanti suami harus ke sekolah, mengejar jadwal pelajaran jam ke tiga dan empat, dimana pada jam itu ada jam belajar matematika, mata pelajaran yang diampunya.

Jalan menuju sekolah tempat suami ngajar di Kecamatan Pasirkuda, perbatasan Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung sangat tidak layak. Aspal sudah tidak tampak. Yang ada bebatuan mirip sungai kekeringan.

Jalan menuju Kampung Sela Cau, entah kemana dan kapan bisa nyentuh aspal

Mengendarai kendaraan bermotor setiap hari, dengan jarak tempuh pulang pergi sekitar 1,5 jam itu dengan kondisi jalan yang sangat buruk, lama-lama bikin badan sakit semua. Tubuh serasa remuk. Ujungnya sering pegal, gak enak badan. Itulah yang sering dikeluhkan suami.

Hingga pagi tadi pak suami mengeluhkan tidak enak badan. Merasa tulang belikat sakit, dan tangan kiri yang dulu pernah patah tulang terasa kebas. Saya pikir jika demikian harus diurut kepada ahlinya. Makanya kami jauh-jauh datang ke Kampung Sela Cau yang masih serba alami ini, demi jumpa Pak Utis, seorang tukang urut yang dipercaya masyarakat.

Sebenarnya, yang tukang urut langganan kami adalah ayahnya, yaitu Pak Amud. Sayang waktu covid-19 melanda, Pak Amud jadi salah satu yang terkena dan menghembuskan nafas terakhir karenanya. Siapa sangka, semua ilmu urut yang dimilikinya, ternyata sudah diturunkan kepada salah satu puteranya, ialah Pak Utis. Demikian informasi yang disampaikan masyarakat, sehingga pagi ini kami mendatanginya.

Ketika tiba di depan rumahnya, seorang perempuan dan dua orang laki-laki, (sepertinya kakek dan cucu) tengah makan bareng di golodog (istilah Sunda untuk bale atau teras depan pintu rumah yang biasa terbuat dari kayu atau bambu).

Aduh, saya pikir mereka makan bareng di golodog sambil sanda gurau begitu rasanya pasti nikmat sekali. Meski makan hanya berlauk sambal dan ikan asin, tapi bagaimana tidak jadi nutrisi terbaik jika makan bersama itu dibarengi suasana yang sangat hangat, ditemani udara bersih, pemandangan hijau menghampar. Pokoknya sepertinya kehidupan demikian itu nyaman dan damai, deh!

Tukang tahu keliling ini menemukan fenomena tukang urut kampung segera bisa go online

Meski canggung karena merasa mengganggu keasyikan waktu mereka makan, tapi masa iya saya dan suami diam saja. Makanya saya langsung bertanya seturunnya dari sepeda motor, apakah Pak Utisnya ada?

“Mah, si bapak kemana? Itu ada tamu.” tanya anak laki-laki kepada perempuan di depannya. Saya yakini ibu itu istri Pak Utis.

“Oh, mau ke bapak? Mari masuk dulu.” Katanya seraya membereskan piring dan semua perlengkapan makan yang masih berserakan. Saya berusaha mencegah, biar mereka melanjutkan dahulu makan nya. Tapi si ibu itu bilang mereka memang sudah selesai makannya.

“Bapak teh tadi mah bilangnya mau ke Ciledug. Sebentar saya telepon dulu ya, biar segera pulang,” kata istri Pak Utis setelah golodog bersih kembali.

Saat itulah bersamaan dengan datangnya seorang pedagang tahu keliling dari samping rumah mereka. Saat tukang tahu itu duduk di golodog, ia mengucapkan ketakjubannya sebagaimana saya tulis di awal, jika sekarang itu, tukang urut di kampung saja mulai go online.

Sambil menunggu Pak Utis datang, saya melihat pemandangan sekitar rumah. Suasana perkampungan di sini masih sangat kental terasa. Tapi meski berada di bukit dengan lahan rumah berselang petak sawah, sekarang sudah bisa dilewati kendaraan bermotor karena jalannya sudah dicor.

Parkir di sisi rumah Pak Utis, sekaligus di sisi sawah

Jalan memang jadi sarana yang utama untuk memajukan suatu daerah. Beberapa rumah yang dulunya panggung berbahan kayu dan bambu, sekarang banyak yang mulai berganti jadi rumah tembok.

Meski bahan bangunan diturunkan truk pengangkut di jalan besar sana, tapi mereka bisa mengangkut sedikit demi sedikit ke dalam perkampungan dengan lebih mudah dan cepat dengan cara mengangkut pakai gerobak atau sepeda motor. Lihat, jalan dibuat permanen selebar setengah meter saja sudah bisa memajukan masyarakat. Apalagi kalau jalan besar yang bisa dilalui kendaraan roda empat.

Internet pun sudah menjangkau perkampungan ini. Meski sinyal di ponsel saya hanya tertera tiga bar, itu pun tidak stabil, tapi setidaknya berselancar di sosial media cukup lancar. Karenanya saya yakin sudah banyak remaja di kampung ini yang terbiasa dengan tontonan Drama Korea atau punya usaha berbisnis online

“Kalau tinggal di sini, sepertinya bakal tiis ceuli herang panon, ya?”

Suami baru terdengar lagi suaranya sejak kami masuk ke rumah Pak Utis.

Saya mengangguk. Dalam kamus bahasa Sunda, Tiis Ceuli Herang Panon memiliki arti: dingin telinga jernih mata. Tiis arinya dingin. Ceuli artinya telinga. Herang artinya jernih. Panon artinya mata. Dengan kata lain peribahasa Sunda itu memiliki arti: hidup tentram dan tidak ada gangguan.

Tiis ceuli herang panon biasanya dikatakan ketika seseorang ingin merasakan ketenangan jauh dari perkelahian, tetangga yang berisik, orang yang suka ngomongin orang di belakang, tidak ingin melihat kejelekan dan hal lain sejenisnya.

Namun saya yakin peribahasa ini hanya angan-angan atau hanya keinginan saja, supaya jauh dari kebisingan sekitar, dan merasakan ketenangan atau ketentraman dalam hidup. Seandainya hidup ini tentram dan tidak ada gangguan, mungkin akan merasa nyaman tidak akan merasa pusing seperti ini. Demikian kira-kira maksudnya.

Suara sepeda motor terdengar memasuki halaman. Tukang tahu keliling yang hendak berjualan kembali berujar riang, “Nah, ini tukang urutnya sudah datang. Sepertinya Kang Utis bakalan punya istilah baru yaitu tukang urut online yeuh…”

Kami pun semua tertawa.

Digitalisasi saat ini memang bukan hanya sebuah gaya hidup tetapi sudah menjadi kebutuhan. Tidak menutup kemungkinan kedepannya apapun profesinya bisa go online. Termasuk tukang urut alias masseur kampung ini.

29 thoughts on “Masseur Kampung Go Online”

  1. Kehidupan di kampung memang sangat menyenangkan, apalagi di Cianjur selatan, tapi sebentar lagi cianjur selatan akan jadi kabupaten apalagi dengan adanya program Cianjur Caang dan 1000 KM jalan beton

    Reply
    • Wah jadi ya mau pemekaran Cianjur Selatan? Wacana ini saya dengar saat sebentar tinggal di Sukabumi tahun 2000an. Dulu, kalau dengar kata “Cianjur Selatan” kayak udah ngeri dulu soal jalannya hehehe. Sekarang gimana ya? Apakah masih seperti itu stereotipe-nya?

      Hidup di desa memang tiis ceuli herang panon soal lingkungan. Tapi ya, harus diakui, hidup di desa juga punya gemerisiknya sendiri hihihi.

      Reply
  2. aku kangen liat jalan desa gtu, inget Ciamis, kampung halaman. tapi kalau setiap hari lewat mah, enya teh eta mah nyareri awak, heheu. Internet memang bagus, mudah2an jadi motor penggerak ekonomi masyarakat desa, tapi ya gtu, namanya teknologi dan perubahan, pasti ada plus minusnya ya

    Reply
  3. Wow, bapak tukang urut hebat sekali. Dgn adanya info mengenai beliau secara online (termasuk postingan blog in), kita jd tau gak hanya jasa si bapak tp jg lokasi kediamannya. Semoga rejekinya bertambah ya, amin.

    Reply
  4. Jadi ingat kampung halaman alm papah saya di Ciamis. Kalau lagi ke sana, saya memilih gak pegang gadget untuk medsosan. Paling pegang gadget untuk motret momen. Karena memang bener-bener pengen berasa tenang. Ngerasain suasana di kampung

    Reply
  5. tambah keren kalo transaksi pembayarannya juga bisa online ya Teh?

    Minimal gopay atau Ovo lah,

    Saya sekarang juga tinggal di kam pung dan kerepotan karena jauh pisan untuk tarik tunai ke bank. Mau ke toko yang menerima tarik tunai, eh kena biaya 2 kali

    Terimakasih backlinknya ya Teh Okti, barakallah

    Reply
  6. Bener itu teh.. sekarang kita harus hidup berdampingan dan berdamai dengan teknologi kalau tidak ongin kehilangan kesempatan.

    Cuman kebayang juga yaa gimana kalo di masa depan tukang pijat online. Kan pijat perlu skinsip yaa hahaha… mungkin metode order yang seperti saat ini aja kali yaa

    Reply
  7. Bener sih mba. Tukang urut langganan kami, udah nenek-nenek usia mendekati 70 senjata andalannya WA, Jadi order pijit ke beliau reservasi online.

    Reply
  8. Duh senangnya saya lihat foto-foto Teh Okti di atas. Kangen deh sama suasana pedesaan seperti itu. Dulu sekali, di Ciamis, waktu ninih-nya suami masih ada, kami suka main kesana. Mancing, ke kebun, ke kolam ikan, ke pasar tradisional, dll. Bener-bener menyegarkan hati, menenangkan jiwa. Sayang, setelah saya jadi blogger, ninih malah wafat. Jadi tak ada tempat untuk menikmati masa-masa itu lagi.

    Kapan-kapan tulis lagi dong Teh Okti tentang desa-desa yang asri. Pengobat rindu akan nuansa bersahaja. Buat saya yang tinggal di daerah industri, artikel-artikel seperti ini tuh, selalu berkesan di hati.

    BTW, semoga suami segera pulih dari pegel-pegelnya ya. Memang kalau naik motor, jarak jauh, apalagi 1.5jam/rute, badan pastilah rontok-rontok. Harus rutin diurut biar tetap segar.

    Reply
  9. Hai teh Okti,
    Bersyukur ya punya kampung dengan suasana perkampungan yang masih terpelihara. Walaupun memang internet sudah masuk hingga pelosok dan penduduk kampungpun sudah mulai melek informasi. Termasuk go online ya. Ah keren untuk kemajuannya

    Reply
  10. aku suka banget sambal sama ikan asin nih teh Oktiii, ehhhh kok jadi fokus ke makanannya sih hihi.
    Iya sekarang mah apa jg online, memudahkan buat ketemunya dan informasi bisa cepat menyebar ya teh. Kang urut online, enakeuun euy.
    btw kudu lapor jalanan rusaknaa 😀 ke bapack JABAR 1 teh

    Reply
  11. Asalkan masih ada jaringan internet dan bisa ditelpon bisa ya semua jasa go online teh…
    saya baru paham kalo istilah tukang urut itu Masseur
    istilah ini apakah dipakai di Cianjur aja atau di daerah sunda lainnya ?

    Reply
  12. alhamdulillah yaa, sekarang jaringan internet udah bisa dirasakan teman-teman yang tinggal di daerah terpencil. Belum lama ini, sepupu suami girang minta ampun karena di kampungnya baru saja masuk jaringan internet sehingga ia gak perlu menempuh jarak berkilo-kilo lagi hanya untuk buka whatsapp

    Reply
  13. Perjalanan setiap hari di jalan yang rusak, betul-betul bikin remek badan. Pagi dan sore harus melaluinya, belum lagi pas hujan. Ha, ya sudah makin gak karuan rasanya.

    Tukang urut online bisa banget ya. Karena udah jaman digital. Nantinya kalau udah tersebar ke mana-mana, Kang Utis bisa terkenal nih.

    Banyak pasien datang untuk meregangkan otot-otot kaku.

    Reply
  14. duu jadi inget kampung nenek,lama tak kesana setelah kakek nenek meninggal, btw sekarang mah kampung juga sudah melek digitalya teh, internet membuat segala informasi darimanapun bisa masuk ke semua orang baik di desa atau di kota

    Reply
  15. Mau beli sayur bisa online, pijat pun bisa pesan secara online. Sekarang semua serba dipermudah ya mbak. Ibaratnya kita rebahan saja barang sudah bisa datang. Teknologi semakin mempermudah kita namun kita juga jgn terlena dengan segala kemudahan itu

    Reply
  16. Sekarang memang zamannya teknologi, makanya kudu mau belajar. Gak menutup kemungkinan, semua hal jadi online. Minimal memang telepon dulu ya buat menghubungi jasa kaya gini. Jadi pergi jauh pun udah pasti terlayani

    Reply
  17. Iyess banget sejak pandemi sudah mulai banyak beralih ke online, berbagai hal banyak yg menjadi bisa online spf blanja kebutuhan dapur saja bisa online juga kan yaa.

    Kita harus mau belajar dg hal2 baru di jaman NOW

    Reply
  18. Bagus nih orang orang kampung bisa nge vlog, cari tambahan penghasilan menjadi konten kreator bahkan menjadi tukang urut dengan adanya internet, saya termasuk yang menikmati konten konten dari desa, kehidupan di desa, bertani, memanen, memetik sayur dan buah hujan sungguh menyenangkan

    Reply
  19. Proyeksinya emang makin banyak aktivitas yang online. Eh lhandalah kondisi pandemi mempercepatnya deeh.
    Pokoknya asal ada internet aja kesempatan utk mendapat pengetahuan baru bahkan menjalin networking atau mendapatkan pekerjaan tu terbuka lebar yaa. Bahkan tukang pijat, tukang sayur dll, minimal promo di sosmed atau pakai Wa deh.

    Reply
  20. Teh Okti adem banget viewnya. Pengen deh main ke tempat Teh Okti di Cianjur, hehe … Bener ya Teh, sekarang itu udah mulai digitalisasi, bikin profesi apapun bisa go online. Zaman udah makin maju nih

    Reply
  21. Berasa tentram dan damai ya tinggal di lingkungan seperti rumah Pak Utis itu. Aahh jadi tau peribahasa Sunda tadi, meskipun sulit mengingatnya, yang penting artinya saya paham nih. Sulit tapi kayaknya hidup setenang itu, pasti ada aja tetangga kiri kanan yang bikin telinga jadi panas. 🙂

    Reply

Leave a Comment

%d bloggers like this: