New Normal Versi Pendaki

 

New Normal Versi Pendaki

https://www.instagram.com/p/BhwLVFOho06/?igshid=1h93mjhw8cp4x

Udah pada piknik? Udah bebas kelayapan? Rang-orang udah pada bikin macet jalanan lagi. Kamu berkontribusi kah?

Ketika ramai membicarakan versi kenormalan baru, saya sendiri merasa tidak ada pengaruh dalam aktivitas di rumah. Secara saat masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) saja, kami merasakan tidak banyak perubahan, kecuali anak dan suami tidak ke sekolah.

Kami tinggal di Cianjur Selatan. Alhamdulillah, wilayah zona hijau. Ke pasar, ibadah ke masjid, tadarusan saat bulan puasa, pengajian anak-anak, ngabuburit dll masih bisa berjalan seperti biasa. Meski tentu saja saya menerapkan aturan ketat kepada keluarga untuk tetap menerapkan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Menjaga lebih baik daripada mengobati.

Jadi saat masa new normal diberlakukan merasa tidak banyak berubah lagi. Ke pasar tetap seminggu dua kali, karena pasarnya di kampung kami ini memang ada hanya pada hari Selasa dan Jumat saja. Mudik ke orang tua juga masih bisa setiap saat, wong lokasi cuma beda kecamatan, mirip kaya mau ke pasar. Alhamdulillah.

Apalagi hampir bersamaan dengan pandemi, saya kena sakit dan tidak bisa banyak aktivitas. Protokol kesehatan di rumah dan keluarga pun semaksimal mungkin kami lakukan dengan disiplin.

Yang bikin beda ketika semua jadwal pendakian yang sudah dibuat sejak tahun lalu, untuk tahun 2020 ini, hampir semua dibatalkan. Yang terlihat sangat kecewa, Fahmi putra kami. Namanya juga anak-anak. Merajuk pastinya. Dengan penjelasan yang dimengerti secara terus-menerus, akhirnya anak juga paham. Pandemi di ini bukan hal sepele.

Bikin greget eh geram kali ya, ketika mendapat informasi dari group KPGI (Komunitas Pecinta Gunung Indonesia) kalau dalam masa PSBB ternyata masih saja ada orang yang nekat mendaki. Padahal jelas ada larangannya.

Bulan lalu, lima orang pendaki ilegal, yang nekat mendaki Gunung Gede Pangrango saat PSBB karena pandemi Corona berhasil diamankan. Secara pendakian Gunung Gede Pangrango kan sudah ditutup sejak April 2020, bersamaan dengan ditutupnya destinasi wisata akibat pandemi oleh pemerintah. Biasanya kan pendakian Gunung Gede Pangrango ditutup setiap 31 Desember hingga 31 Maret, dengan tujuan untuk mengembalikan ekosistem setelah selama beberapa bulan dipadati pengunjung.

Penutupan kali ini jelas karena pandemi Corona. Tidak disebutkan sih sampai kapan penutupan dilakukan, pastinya melihat kondisi dan situasi terkini perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia. Kita yakin kalau kondisi membaik pasti akan segera dibuka. Tinggal sabar saja.

Tapi masa new normal diterapkan, beberapa gunung jalur pendakiannya mulai ada yang dibuka, banyak orang yang menyalahgunakan pengertian new normal ini. Pemerintah membebaskan dengan syarat protokol kesehatan, namun bagi mereka, diartikan bebas dengan kebebasan sebebas-bebasnya. Yang terjadi, kekhawatiran tingkat tinggi buat saya mah. Sementara mereka, sedikit pun tidak mengindahkan bagaimana jika covid-19 itu singgah dalam dirinya.

Saya dan suami sepakat dengan beberapa komunitas gabungan, yang memilih menahan diri untuk tidak mendaki, sampai kondisi benar-benar kondusif. Dikejar ataupun tidak, gunung tidak akan lari. Tapi kalau kita sudah kena sakit, bagaimana mau bisa mendaki?

Kalaupun ada kepentingan dan diharuskan melakukan pendakian, protokol new normal wajib dijalankan. Standar Operasional Prosedural (SOP) atau protokol pendakian dan aktivitas wisata alam dalam menghadapi masa new normal jangan diremehkan.

Setidaknya, siapkan bekal diri untuk protokol kesehatan standar seperti penanganan kesehatan, penyediaan disinfektan, penggunaan masker, hand sanitizer, dan protokol standar lainnya.

Satu lagi yang jangan sampai ditinggalkan adalah pastikan diri kita sudah terintegrasi dengan asuransi. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di gunung, tapi kita harus menjamin bukan hanya kenyamanan tapi juga keamanan. Kalau terjadi apa-apa setidaknya kalau ada asuransi itu bisa sedikit meng-cover.

Pun jika pengelola gunung dan taman nasional meminta syarat setiap pendaki wajib menunjukan hasil tes PCR atau tes swab mau tidak mau ya penuhi. Bukankah semua itu untuk keamanan kita juga? Meski kalau dilihat dari segi biaya, memang cukup mahal buat kelas menengah ke bawah seperti kami.

Lepas dari semua itu, karena sekarang setiap mendaki saya selalu membawa anak, naluri saya sebagai seorang ibu, tetap tidak menginginkan dulu melakukan pendakian. Kami yakin semua ini membawa hikmah. Apa yang kita kira baik, mungkin justru buruk menurut Sang Pencipta. Tapi sebaliknya, meski menurut kita buruk, tapi Tuhan Maha Tahu, mana yang terbaik buat kita.

Dengan penjelasan yang dimengerti secara terus-menerus, akhirnya Fahmi pun paham. Pandemi di ini bukan hal sepele. Sabar saja, sampai semuanya baik maksimal. Kita dukung program pemerintah, supaya penyebaran semakin minimal, hingga Indonesia bebas covid-19 dan pendakian ataupun aktivitas lainnya bisa dilakukan secara beneran normal.

Bantu doa juga ya, Sob…

Aamiin

.

https://www.instagram.com/p/BmpcPSmneK-/?igshid=zqczai407nuh

42 thoughts on “New Normal Versi Pendaki”

  1. Iri dengan mereka yang di zona hijau. Teman saya misalnya, bebas gowesan kemana-mana. Ya sudah, Alhamdulillah insya Allah kita semua sehat ya. Hebat deh si mbak hobby mendaki, kebalikan sama saya senangnya rest and relax aja hihi

    Reply
  2. Mungkin bagi para pendaki, naik gunung itu sudah seperti kewajiban yang harus dilakukan ya mbak. makanya masih ada saja yang nekat untuk mendaki 😀 Walau zona hijau di Cianjur, tapi harus tetap waspada ya mbak 🙂

    Reply
  3. Subhanallah indah banget ih. Jadi pengen nyoba naik gunung juga. Aku kalah sama anak kecil banget haha. Semoga wabah bisa segera berakhir ya. Biar bisa mendaki lagi mba.

    Reply
  4. Asyik sekali bisa mendaki sekeluarga :D. Suami dulu suka naik gunung, tapi sudah lama enggak mendaki. Dalam kondisi pandemi seperti ini memang yang paling penting sabar saja ya…. daripada nekad mendaki, lalu malah terjadi hal yang enggak kita inginkan. Apalagi kalau mendakinya bawa anak. Semoga corona segera pergi, agar semua bisa leluasa beraktivitas lagi, termasuk mbak dan keluarga, semoga bisa segera melalukan pendakian lagi. 🙂

    Reply
  5. Keren banget mbak bisa ndaki sekeluarga. Dari jaman kuliah impian saya bisa ndaki gunung tapi takut gakuat huhuhu. Sabar ya mbak pasti nanti ada waktunya ngedaki lagi ketika semua ini udah selesai.
    Kalau ndaki disituasi seperti ini perlengkapannya harus banyak mengikuti protokol kesehatan ya mbak.

    Reply
  6. Saya belum jalan-jalan ke mana-mana, Mbak. Meski udah pengen banget main ke gunung. Semoga pandemi cepat berakhir ya. Supaya kita bisa menikmati lagi keindahan alam dengan bebas.

    Reply
  7. Keren Mbak.. Pendaki.
    Awalnya saya agak binvmgung dengan tamlilan blognya, saya kira salah masuk.. ternyata..

    Reply
  8. Wah anakmu kecil-kecil udah suka ikutan mendaki ya Teh? Keren nih pecinta alam cilik. Bener mba, walopun rasanya udah pengen banget melakukan hal yang kita suka ada baiknya kita tetap patuhi protokol kesehatan demi kebaikan bersama juga

    Reply
  9. Duh aku blm bepergian nih kecuali klo emg penting banget/ke minimarket hhe. Duh seru bnget sii udh bisa liburan ya, pngen cobain mendaki gunung jg deh

    Reply
  10. Semoga pandeminya lekas berlalu ya, biar kita juga lebih leluasa lagi beraktivitas. Salut sama keluarga Teh Okti yang memang sudah kangen banget mendaki tapi sepakat menahan diri dulu. Kebayang menahan rindunya ya, Teh.

    Reply
  11. Saya yang termasuk sudah gatal banget pengen traveling, Mbak. Namun mengingat Covid dkk masih merajalela, masih banyak tinggal di rumah saja. Biar pun ada new normal, saya lebih memilih tinggal di rumah, kalau gak penting-penting amat untuk keluar. Pengendalian diri saat pandemi seperti ini penting. Biar virusnya cepat berlalu

    Reply
  12. Iya nih. Padahal ketika aturan dilonggarkan, bukan berarti jadi super bebas. Masing-masing orang tetap harus waspada dalam melakukan setiap aktivitasnya. Termasuk pendakian.

    Semoga semuanya segera kembali normal ya mbak. Ada vaksin yang bisa bikin kita tidak terlalu risau dengan semuanya.

    Reply
  13. Wah salut deh sm buibu yg masih punya passion mendaki gunung, keren pisan euy… Saya dukung deh doanya agar pandemi ini segera berlalu agar destinasi wisata pendakian gunung bs kayak dulu lagi yaa

    Reply
  14. Selalu kagum sama pendaki, maklum saya naik bukit aja was-was dang ngos-ngosan ahahaha. Semoga Pandemi segera berlalu dan kita semua bisa segera menunaikan rindu buat bertualang ya kak

    Reply
  15. Beberapa temen-temen pendaki udah pada muncak juga nih Mbaa, cuma aku masih stay at home terus nih. Camping di belakang rumah sama keluarga, lagi memanfaatkan waktu banget soalnya

    Reply
  16. Daku baru sekali keluar rumah yang jauh an karena ada kerjaan Teh, itupun deg degan pakai banget. Kondisi jalanan nggak ramai sih, malah jadi ada perubahan jadwal transportasi. Dari situ seharusnya membuat kita juga kalau nggak penting amat bepergian jauh ya nggak usah ya.

    Reply
  17. Fahmi oke bangey euy hehe gak mau kalah sama mommy nya. Kemaren temen ku juga ngajak2 mendaki juga teh, tapi kataku jangan sekarang2 dulu deh, masih belum kondusif di pandemi kaya gini 😉

    Reply
  18. Saya malah sebaliknya mbak, makin insecure keluar rumah melihat org cuek bebek gak pakai masker, jd sampai sekarang kami sekeluarga masih sama kek Februari-Maret lalu, tak keluar rumah kalau gk penting. ANak2 hampir gak pernah keluar pagar jg.
    Mendaki gunung ya… bbrp temenku yg suka naik gunung ada yg bilang blm berani. Emang ada oknum nakal sih berbondong2 cuek bebek ke sana santai aja tanpa protokol kesehatan malah ada yg gk izin, alasannya bosan di rumah, tp sayang ya gtu. Ikut doa aja supaya dikasi kesadaran mereka yg ignorant ini.

    Reply
  19. Jadi kangen mendaki ya mbak? Teman-temanku yg biasanya mendaki juga sering bilang kalau kangen ke gunung. Aku gak tahu sih apa asiknya, tapi aku juga udah merasakan gaenaknya gabisa ke mall selama berbulan-bulan.

    Reply
  20. Harus tetap hati-hati dan sesuai protokol kalau kita mau berwisata alam. Sebenarnya baik juga untuk kesehatan dengan kita wisata alam, naik gunung misalnya. Yang penting protokol kesehatan di lakukan juga.

    Reply
  21. Aku salfok ama Fahmi mbak. Itu umur berapa tahun ya?

    Dari kapan dia diajak mendaki dan gmn tipnya biar dia betah tidur di tenda dan ga rewel? Pgn bawa ponakan kemping aja aku masih ragu bgt.

    Reply
  22. Miris banget deh Teh. Masa PSBB masih ada yang nekat mendaki. Masih jalan jalan. Padahal jelas jelas kita semua terjebak pandemi.

    Hmm saya belum kemana mana sih Teh. Mentok cuma nemenin Bundo dan Datuk ngitarin Sentul. Ngitarin doang nggak pake turun dari mobil. Kasian orangtua juga bosan kelamaan di rumah.

    Reply
  23. Yang nekat itu gimana ya? Kok gak ada rasa peduli sama dirinya juga lingkungannya?
    Keputusan Teh Okti untuk gak naik gunung dulu itu tepat banget Teh walau udah hijau misalnya tetep saja ada yang harus diwaspadai soalnya kan orang-orang berdatangan dari berbagai daerah.
    Ami pinter ya mau mengerti kondisi ini 🙂

    Reply
  24. Bener teh masih banyak orang yang lebih mementingkan nafsunya ketimbang bersabar dulu. Ndak apa-apa teh dipending, alam pun sedang mencoba menyelaraskan kembali, beristirahat dari kunjungan yang tiada hentinya. Tetap sehat yaa teh 🙂

    Reply
  25. Huhu tenyata masih ada aja yang bandel ya teh.

    Emang kalo udah bawa bawa anak pengennya cari aman ajaaa. Semoga semua segera membaik dan teh Okti sekeluu bisa mendakumi lagi

    Reply
  26. Mantap teh Okti masih kuat mendaki gunung, aku mah boro-boro mungkin teh bawa badan aja sudah berat, hiks. Btw buat aku kegiatan kaya gini seru bisa menikmati keindahan alam.

    Reply
  27. Alhamdulillah Cianjur zona hijau ya mbak. jangan sampai berubah jadi zona merah deh. Solusinya orang jakarta atau wilayah merah lain jangan pada kemana-mana dulu. udah sabar-sabar aja ya. Walau aku juga sebenernya kangen berat pengen liburan dan jalan hehe

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics