Pengalaman Overstay di Hong Kong

Pengalaman Overstay di Hong Kong

 

Mumpung masih hangat pemberitaan tentang Pekerja Migran Indonesia, secara kemarin 18 Desember diperingati sebagai Hari Buruh Migran Internasional, saya mau cerita soal pengalaman saya dianggap overstay alias tinggal melewati batas waktu di negara orang, tepatnya di Hong Kong.

Cerita ini diilhami oleh teman saya, Mbak Yuli Riswati yang dideportasi oleh pemerintah Hong Kong akhir November lalu, setelah sebelumnya Mbak Yuli ditahan, bahkan katanya diperlakukan tidak baik, hingga dipulangkan ke tanah air.

Berita itu pun menghiasi koran dan media online kolom cerita soal dunia buruh migran. Ramai pemberitaan jika seorang buruh migran Hong Kong yang dideportasi karena dua dugaan. Pertama karena Mbak Yuli rajin menulis, mengangkat kejadian aksi demonstrasi di Hong Kong menjadi sebuah berita, dan dugaan lain dideportasi karena kasus overstay.

Sementara itu, beberapa bulan terakhir ini kondisi Hong Kong memang sedang banyak aksi demonstrasi, maka isu lain soal pemulangan teman buruh migran itu pun bermunculan. Termasuk pengakuan Mbak Yuli menjalani masa penahanannya yang penuh drama oleh otoritas pemerintah Hong Kong.

Namanya berita bisa begini bisa begitu. Kita tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah, kepada siapa pun. Termasuk kedua belah pihak dalam masalah ini. Yang jelas saya bisa merasakan bagaimana perasaan Mbak Yuli.

Namun ketika mendengar kasus overstay, saya jadi ingat punya pengalaman yang hampir sama dulu saat kerja di Hong Kong. Semoga tidak dianggap aji mumpung jika saya ulas pengalaman yang mirip dialami Mbak Yuli, dan hampir menyeret saya pula ke dalam penjara itu.

Saya ceritakan karena momennya rada tepat saja secara kemarin ramai diperingati sebagai hari buruh migran internasional. Nah mumpung masih hangat-hangatnya bahasan soal buruh migran jadi pembicaraan, izinkan saya membagi pengalaman yang pernah juga nyaris dinyatakan overstay oleh imigrasi Hong Kong. Semoga ada manfaatnya bagi yang lain.

Once upon the time…

Saya kerja di di Hong Kong sekitar tahun 2003. Setelah kontrak pertama saya berakhir, saya memiliki kesempatan untuk mencari pekerjaan baru, atau sekadar leyeh-leyeh di negara beton itu selama 14 hari.

Uang tiket, gaji, surat rekomendasi dari majikan lama dan izin tinggal di kantor IMWU (Indonesia Migrant Worker Union) yang beralamat di Causeway Bay sudah saya kantongi. Sudah sepakat bersama teman-teman lain kalau saya akan bergabung di kantor IMWU selama masa transisi mencari majikan.

Dari Tuen Mun di pelosok New Teritorial Lau Fau San sana saya pindah ke Hong Kong Island melalui Yuen Long menuju harapan baru bersama bos baru.

Di Causaway Bay selain jalan-jalan, main ke perpustakaan dan ketemu banyak teman di warung indo, waktu dua minggu lamanya itu saya pergunakan untuk mencari pekerjaan dengan mengontak beberapa agency dan informasi kerja dari mulut ke mulut.

Entah hari ke berapa saya lupa. Saya interview dengan calon majikan di Jordan. Bahkan saya sudah sempat ke rumahnya juga sampai kami sepakat bersiap membuat surat kontrak kerja.

Setelah semua persyaratan dirasa lengkap, mulai surat kontrak kerja, surat pelepasan dari bos lama, visa lama, ID card, paspor, dan entah apa lagi saya lupa, saya pun bersama teman ke kantor imigrasi. Tapi betapa terkejutnya saya ketika sampai giliran saya petugas imigrasi bilang saya harus keluar dulu dari otoritas Hong Kong karena saya sudah tinggal melebihi batas waktu alias overstay. Mea? Timkai a?

Saya bingung yang sebingung-bingungnya. Saya masih punya waktu bebas tinggal selama 14 hari, bagaimana bisa overstay?

Majikan saya sudah melapor ke imigrasi jika kontrak kerja kami sudah selesai. Seharusnya, saya ikut serta untuk melapor juga dan baru pihak imigrasi akan memberikan hak tinggal selama 14 hari.

Olala… Saya baru paham. Meski sudah saya jelaskan jika saat ini saya sudah punya pekerjaan baru, siap dengan kontrak kerja, tapi peraturan tetap peraturan. Apalagi negara Hong Kong sangat terkenal dengan kedisiplinan peraturannya. Saya tetap harus keluar dulu dari Hong Kong, atau bakal kena penjara.

Duh, tidak ada pilihan yang baik. Tapi daripada dipenjara, ya memilih cabut dari Hong Kong saja, meski itu sama saja dengan memutuskan kontrak dengan majikan baru dan urusan tetek bengek lainnya yang sebagian banyak belum bisa saya selesaikan karena waktu yang mepet dan perasaan tidak tenang yang menghantui kepala saya.

Akhirnya dalam waktu super kilat semua barang saya bereskan. Teman-teman banyak membantu saya. Sedih dan haru bercampur selama kami bersama mengepak barang. Tidak tega dengan barang bawaan saya, Aldy sahabat baik bersedia mengirimkan barang saya melalui jasa pengiriman barang. Silo, yang sampai sekarang tidak ada kabar dan jejaknya ikut membantu mengurus beli tiket dan sebagainya sampai bersama Aldy mengantar saya ke bandara. Banyak teman yang tidak sempat saya kabari.

Selama dalam kereta cepat menuju bandara kami tidak banyak cerita. Semua bagai terasa mimpi. Saya berpisah bersama semua sahabat yang selalu bersama-sama sejak proses kerja dari Indonesia dahulu itu hingga selalu merasakan suka duka bersama selama di Hong Kong hampir tidak bisa dipercaya.

Saat itu kami belum punya akun sosial media. Internet ada, tapi hanya buat chating yahoo messenger-nya saja. Beberapa sahabat saat ini Alhamdulillah masih bisa komunikasi dan silaturahmi tapi tidak sedikit juga yang hilang jejak, tidak ada kabar berita.

Pengalaman dan pelajaran yang bisa saya ambil, adalah jangan menyepelekan aturan keimigrasian di mana pun. Saya tidak bisa membayangkan jika saya telat, saya bisa masuk penjara sebelum dideportasi, seperti yang dialami Mbak Yuli.

20 thoughts on “Pengalaman Overstay di Hong Kong”

    • Walah jd ada semacam pelaporan dari dua sisi gtu ya mbak. Untung teman2nya baik ya jd membantu sekali pada saat kudu keluar Hongkong dulu sblm akhirnya kembali lg utk kerjaan baru.

      Reply
  1. Ngeri-ngeri sedap ya beurusan dengan imigrasi. Rasanya kalau lagi ke luar negeri, saya paling malas pas bagian imigrasi. Meskipun merasa gak ada salah. Tetapi, tetap aja kurang nyaman. Apalagi kalau sampai ada kejadian seperti itu. Pelajaran berharga banget deh pastinya

    Reply
  2. Duhh pengalamannya uwoo bgt teh..
    Emang klo ke luar negeri kita harus bener bener taat peraturan dan bw dokumen yg dibutuhkan ya..
    Urusan sama imigrasi bikin ngeri..

    Reply
    • Saya turut prihatin atas mba yuli nya, dan perempuan lain nya yang memiliki nasib serupa.
      Ya namanya di negeri orang ya mba, mau gimana pun tetap patuhi peraturan agar kita aman.
      Apalagi kalau seperti yang mba bilang, bisa di penjara.
      Ya jadi makin ribet dong urusan nya nanti.

      Reply
  3. Saya turut prihatin atas mba yuli nya, dan perempuan lain nya yang memiliki nasib serupa.
    Ya namanya di negeri orang ya mba, mau gimana pun tetap patuhi peraturan agar kita aman.
    Apalagi kalau seperti yang mba bilang, bisa di penjara.
    Ya jadi makin ribet dong urusan nya nanti.

    Reply
  4. Siapapun kita tetaplah mengikuti peraturan yang ada. Apalagi itu adalah ketentuan yang dibuat di tiap-tiap negara yang pastinya punya kebijakan tersendiri. Pengalaman ini bisa jadi masukan ya buat kami para pembaca, Teh

    Reply
  5. Ya Allah teh.. alhamdulillah yah… Meski harus super kilat mudik tapi banyak teman membantu. Aku baru tahu peraturan ituw, bener bener kalo udah sama rule ngga bisa main main daripada jeblos ke bui *naudzubillahi min dzalik* lebih baik memang mudik :’)

    Reply
  6. Wah, baru tahu aku kalau overstay bisa dideportasi padahal gak sengaja ya overstaynya teh. Sedih dan takut sih kalau aku, mana lagi dinegara orang lagi. Untung teh Okti ada banyak teman yang membantu. Pelajaran banget nih.

    Reply
  7. Slalu suka baca pengalaman Teh Okti di negeri orang. Ada saja pelajaran yang bisa diambil.
    Aturan Overstay ini harus jadi perhatian khusus bagi mereka yang kerja di LN. Beruntung punya teman supportif, mau bantu cari solusi terbaik.

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics